Berita

Genjot Wisatawan, Taman Nasional Dipoles Jadi Destinasi Wisata

SENIN, 29 FEBRUARI 2016 | 17:32 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sejak Oktober lalu bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mengoptimalkan aset hutan dan taman nasional itu sebagai atraksi destinasi wisata yang memikat.

Karena Hutan Tropis dan Taman Nasional adalah atraksi pariwisata yang memiliki nilai lebih buat Wonderful Indonesia. Baik, competitive advantage, maupun comparative advantage.

Namun, Menpar Arief Yahya memastikan pihaknya tetap menggunakan prinsip-prinsip sustainable tourism development (STD), yang model dan aturan mainnya sudah ada benchmark di UN-WTO.


"Sudah ada standar globalnya, standar internasional, dan dirilis oleh badan PBB yang berpusat di Madrid itu. Jika diturunkan dalam implementasi, menggunakan asumsi bahwa semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan," ujar Menpar dalam keterangannya (Senin, 29/2).

Taman-taman yang menjadi perhatian Kemenpar dan KLHK adalah, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP),Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Kepulauan Seribu, Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Rinjani, dan Taman Nasional Gunung Tambora.

"Selain itu Pak Menpar Arief Yahya dan ibu Menteri LHK Siti Nurbaya menandatangin kesepakatan, lalu kami mengeksekusi kerjasama itu di level eselon 1-2. Kami akan menjalankan kesepakatan itu dengan konsisten," ungkap Asisten Deputi Wisata Alam dan Buatan Kemenpar, Azwir Malaon.

"Besok (1/3), kami akan koordinasi dengan lembaga terkait untuk kembali melaksanakan perbaikan-perbaikan di taman nasional," tandasnya. Hal ini dilakukan untuk menggalang potensi sumber daya yang ada. Percepatan pengembangan destinasi berbasis alam ini dikhususkan dalam mewujudkan target pariwisata 2019.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian LHK, Tachrir Fathoni mengatakan, nanti langkah konkritnya terkoneksi dalam tiga klaster; pertama Lampung dan Jawa, khususnya Jawa Barat dan  DKI Jakarta; klaster dua daerah Jawa Timur; dan klaster tiga di Nusa Tenggara Barat. Dalam ketiga klaster tersebut, harus ada satu integrasi antara alam, budaya, dan atraksi buatan lainnya.

Tachir juga menuturkan, ada empat strategi yang akan digunakan yaitu penguatan terhadap destinasi wisata alam yang ada (improving), menciptakan destinasi wisata alam yang baru (generating), mendesain keunggulan komparatif destinasi wisata alam (branding), dan mewujudkan 3P (public private partnership) dalam pengembangan wisata alam (tourism governance). [zul]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya