Berita

Hukum

Duit Hambalang yang Diterima Mahyuddin untuk Kongres Demokrat

SENIN, 05 MEI 2014 | 16:29 WIB | LAPORAN:

Fakta mengenai penerimaan uang Rp 600 juta oleh bekas Ketua Komisi X DPR RI, Profesor Mahyudin kembali terungkap dalam sidang lanjutan perkara dugaan korupsi proyek Hambalang, Bukit Sentul, Bogor, di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Adalah bekas Sesmenpora Wafid Muharram yang membeberkan penerimaan uang itu. Kata dia, ‎uang diminta politisi Partai Demokrat itu dengan alasan untuk biaya Kongres partainya tahun 2010 di Bandung.

"Mahyudin ke ruangan saya menyampaikan (dana untuk) Kongres Demokrat di Bandung," kata Wafid saat bersaksi (Senin, 5/5).


Wafid tak langsung memberikan uang itu. Wafid meminta Mahyuddin melaporkan terlebih dahulu ke Andi Mallarangeng selaku Menpora.

"Pak lapor dulu ke Pak menteri (Andi), kemudian Pak Mahyuddin datang lagi bilag sudah lapor ke Pak Mentri, saya ga tahu dia lapor apa gak, tapi saya percaya dia," terang dia.

Wafid bilang, Mahyuddin awalnya minta uang Rp 500 juta. Belakangan, melalui sambungan telepon meminta uang ditambah menjadi Rp 600 juta.

"Dia lapor, mnta anggaran Rp 500 juta karena lagi ksong saya pinjam ke Paul Nelwan, terus ditlpon lagi minta Rp 600 juta. Kemudian minta dkirim ke Bandung, ada bahan kongres dari mahyudin," terang dia.

Akhirnya, uang tersebut diberikan Wafid ke Mahyuddin melalui adiknya. Namun adik Wafid tak bertemu langsung dengan Mahyuddin, melainkan hanya bertemu dengan staf Mahyuddin.

"(Uang) itu dititipin ke adik saya, harapan saya bisa ketemu Mahyuddin tapi tenyata gak ketemu, dititipin ajudannya, kemudian disampaikan poniran uangnya," tegas Wafid.

Dalam dakwaan Jaksa KPK disebutkan Mahyuddin ikut menikmati uang 'haram' proyek Hambalang. Namun, saat dihadirkan sebagai saksi dalam kasus tersebut Mahyuddin menampik ikut menerima uang dari proyek yang bernilai Rp 2,5 triliun tersebut.[dem]

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Lepas Status WNI Kena Tarif Rp5 Juta, Ini Kata Ketua DPR

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:23

KPK Panggil Lima Pejabat BPK Sumsel

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:16

Saham BUMI Menguat 6 Persen pada Sesi I, Bukukan Transaksi Rp727,5 Miliar

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:15

Pengisian Jabatan di Kemenag Dituntut Adil dan sesuai Meritokrasi

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:08

Bisa Jadi Ada Aparat Lain Seperti Febrie

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:06

Sekolah Negeri Sepi Peminat Harus Jadi Perhatian

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:05

Mereduksi Bobot Kekuasaan Gibran Lewat Pergeseran Posisi Duduk Wapres

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:04

Sepak Bola Berbasis Bukti

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:50

DPR Minta Kesetaraan Penanganan Kasus Febrie

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:39

Babinsa dan Bhabinkamtibmas Dilibatkan dalam Pemungutan Pajak Berpeluang Gerus Kepercayaan Publik

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:38

Selengkapnya