Jelang pemilu legislatif yang akan dilangsungkan kurang dari satu minggu ke depan, Panglima Jenderal TNI Moeldoko memastikan telah mengerahkan personilnya untuk memetakan daerah-daerah rawan konflik demi memastikan pelaksanaan pemilu berjalan dengan baik.
"Kita akan mapping (memetakan) dengan baik agar bisa diketahui dengan jelas daerah rawan konflik menjelang Pemilu 2014," kata Moeldoko saat diwawancara awak media (Jumat, 4/4).
Ia menyebut bahwa para panglima daerah militer (Pangdam) terus bekerja keras untuk memetakan potensi konflik di sejumlah daerah seperti di Ambon, Papua dan Aceh.
"Di Ambon, kami mendapatkan senjata organik sebanyak 22 pucuk segala jenis. Namun, kondisi Ambon cukup stabil. Pasukan yang kami kirim di sana akan segera kami tarik karena aman," jelasnya.
Sementara di Papua, jelasnya, sebanyak 27 pucuk senjata campuran sudah diamankan dalam tiga bulan terakhir. Di perbatasan Papua TNI sempat melakukan kontak senjata dengan separatis. "Butuh konsentrasi lebih agar tak terjadi gesekan," lanjutnya.
Sedangkan di Aceh, tutur Moeldoko, sebanyak 22 pucuk senjata campuran juga sudah didapatkan. Ia juga telah memerintahkan para personil untuk mendekati secara persuasif para pemilik senjata agar bisa ditarik.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa TNI telah memetakan konflik-konflik kecil dari partai lokal di Aceh. "Kami punya operasi intelijen dan teritorial untuk memetakan persoalan itu," kata Moeldoko.
Tak hanya itu, TNI juga berhasil memetakan sejumlah gerakan sistematis untuk menyerukan golput. Oleh karena itu, dirinya mengimbau kepada masyarakat Indonesia agar menggunakan hak suaranya dengan datang ke TPS.
"Saya juga perintahkan prajurit yang ditugasi mengamankan pemilu agar tak dekat-dekat dengan TPS," kata Panglima TNI.
Ia juga menegaskan bahwa tak ada operasi intelijen yang dilakukan Badan Intelijen Strategis TNI (Bais).
"Saya gantung Kepala Bais kalau intelijen TNI digunakan memenangkan pemilu. Emang kurang kerjaan apa Panglima minta laporan intelijen pemenang pemilu. Kiblat saya amankan negara. Intelijen hanya kepentingan bangsa, bukan yang lain," tegasnya.
Selain itu ia juga menyebut bahwa dirinya tak pernah memerintahkan Kabais untuk memenangkan salah satu parpol. "Saya tak mau juga seperti itu. Jangan dikembangkan yang seperti ini," tandasnya.
[mel]