Berita

Pertahanan

Jelang Pemilu, Jenderal Moeldoko Pastikan Pemetaan Daerah Rawan Konflik

JUMAT, 04 APRIL 2014 | 15:32 WIB | LAPORAN:

Jelang pemilu legislatif yang akan dilangsungkan kurang dari satu minggu ke depan, Panglima Jenderal TNI Moeldoko memastikan telah mengerahkan personilnya untuk memetakan daerah-daerah rawan konflik demi memastikan pelaksanaan pemilu berjalan dengan baik.

"Kita akan mapping (memetakan) dengan baik agar bisa diketahui dengan jelas daerah rawan konflik menjelang Pemilu 2014," kata Moeldoko saat diwawancara awak media (Jumat, 4/4).

Ia menyebut bahwa para panglima daerah militer (Pangdam) terus bekerja keras untuk memetakan potensi konflik di sejumlah daerah seperti di Ambon, Papua dan Aceh.


"Di Ambon, kami mendapatkan senjata organik sebanyak 22 pucuk segala jenis. Namun, kondisi Ambon cukup stabil. Pasukan yang kami kirim di sana akan segera kami tarik karena aman," jelasnya.

Sementara di Papua, jelasnya, sebanyak 27 pucuk senjata campuran sudah diamankan dalam tiga bulan terakhir. Di perbatasan Papua TNI sempat melakukan kontak senjata dengan separatis. "Butuh konsentrasi lebih agar tak terjadi gesekan," lanjutnya.

Sedangkan di Aceh, tutur Moeldoko, sebanyak 22 pucuk senjata campuran juga sudah didapatkan. Ia juga telah memerintahkan para personil untuk mendekati secara persuasif para pemilik senjata agar bisa ditarik.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa TNI telah memetakan konflik-konflik kecil dari partai lokal di Aceh. "Kami punya operasi intelijen dan teritorial untuk memetakan persoalan itu," kata Moeldoko.

Tak hanya itu, TNI juga berhasil memetakan sejumlah gerakan sistematis untuk menyerukan golput. Oleh karena itu, dirinya mengimbau kepada masyarakat Indonesia agar menggunakan hak suaranya dengan datang ke TPS.

"Saya juga perintahkan prajurit yang ditugasi mengamankan pemilu agar tak dekat-dekat dengan TPS," kata Panglima TNI.

Ia juga menegaskan bahwa tak ada operasi intelijen yang dilakukan Badan Intelijen Strategis TNI (Bais).

"Saya gantung Kepala Bais kalau intelijen TNI digunakan memenangkan pemilu. Emang kurang kerjaan apa Panglima minta laporan intelijen pemenang pemilu. Kiblat saya amankan negara. Intelijen hanya kepentingan bangsa, bukan yang lain," tegasnya.

Selain itu ia juga menyebut bahwa dirinya tak pernah memerintahkan Kabais untuk memenangkan salah satu parpol. "Saya tak mau juga seperti itu. Jangan dikembangkan yang seperti ini," tandasnya. [mel]

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

KPK Sita Rp106,3 Miliar dari OTT BPN, Uang Disimpan di Rumah Tangan Kanan Nusron

Selasa, 15 September 2026 | 20:26

Bapera Hormati Proses Hukum Fahd A Rafiq

Selasa, 15 September 2026 | 20:24

Homecoming Festival IKA Unpad 2026 Jahit Harmoni Lintas Generasi

Selasa, 15 September 2026 | 20:11

BNI-Pajakind Integrasikan Layanan Perbankan-Perpajakan Digital untuk UMKM

Selasa, 15 September 2026 | 20:06

Ini Identitas 19 Orang Terjaring OTT KPK di Kasus Kementerian ATR/BPN

Selasa, 15 September 2026 | 20:06

KPK Tahan 8 Tersangka Kasus Suap ATR/BPN, Tangan Kanan Nusron hingga Bos Summarecon

Selasa, 15 September 2026 | 19:58

UOB: Indonesia Punya Tameng Hadapi Guncangan Global, Apa Itu?

Selasa, 15 September 2026 | 19:37

KUHP-KUHAP Baru Perkuat Peran Advokat Dampingi Klien

Selasa, 15 September 2026 | 19:28

Purbaya Terlempar dari Kabinet Diduga Gegara Whoosh

Selasa, 15 September 2026 | 19:17

Pejabat ATR/BPN Terjaring OTT KPK, Wamen Ossy Minta Publik Tak Berspekulasi

Selasa, 15 September 2026 | 19:01

Selengkapnya