Berita

ilustrasi

Pertamina-Medco Biang Keladi Kerusuhan Tiaka

RABU, 24 AGUSTUS 2011 | 10:58 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Kerusuhan di Pulau Tiaka, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Senin malam, 22/8) memakan dua korban jiwa dan puluhan lainnya luka-luka, akibat ditembak oleh aparat keamanan.

Namun berita soal korban jiwa itu sampai kini masih simpang siur. Salah seorang yang dikabarkan tewas adalah mahasiswa dari Makasssar, bernama Andi Sondeng (21), yang tertembak di dada kanan. Kabar lain mengatakan dua korban tewas adalah warga setempat.

Dalam siaran persnya, Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), menjelaskan bahwa amuk massa tersebut dipicu oleh mangkirnya investor Joint Operation Body Pertamina-Medco E&P Tomori terhadap janji-janjinya kepada warga. Sebelumnya, perusahaan tersebut telah menjanjikan kepada warga untuk penyediaan listrik dan fasilitas umum lainnya.


Penyediaan berbagai kebutuhan warga oleh perusahaan tersebut merupakan kewajiban dari perusahaan yang diatur dalam UU 22/2001 tentang Migas, PP No 42/2002 tentang Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, PP No 35/2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, Production Sharing Contract (PSC) yang memuat klausul tentang pemberdayaan masyarakat. Namun sejak dimulainya kontrak Production Sharing Contract (PSC) pada tahun 1997 hingga saat ini, tidak ada satupun program pemberdayaan yang benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar, khususnya warga Desa Kolo Bawah.

"Bahkan yang terjadi justru sebaliknya. Masyarakat Kecamatan Mamosalato dan Bungku Utara malah dimiskinkan secara sistematis akibat pengolahan minyak yang dijalankan oleh Pertamina dan Medco," terang Ketua Nasional Perhimpunan Rakyat Pekerja, Anwar Maruf.

Anwar melanjutkan, sumber penghidupan utama masyarakat Kecamatan Mamosalato dan Bungku Utara adalah nelayan. Namun, akibat eksplorasi dan eksploitasi yang dilakukan oleh Pertamina dan Medco di perairan Tiaka, maka masyarakat sekitar tidak boleh mengakses lagi perairan Tiaka. Perlu diketahui, ladang minyak Tiaka berdiri di atas wilayah tangkapan ikan nelayan tradisional yang sejak dahulu menjadi lokasi pemancingan ikan terbesar di wilayah ini.

Belum lagi, masalah perusakan lingkungan yang disebabkan oleh pengolahan minyak tersebut. Hancurnya terumbu karang akibat proyek reklamasi dan limbah minyak yang mencemari wilayah Tiaka, semakin memperjelas hebatnya pemiskinan yang dilakukan oleh para pemilik modal tersebut.

"Tidak berjalannya pemberdayaan masyarakat yang seharusnya dilaksanakan oleh Pertamina dan Medco, selalu saja didasarkan pada menurunnya pendapatan perusahaan," lanjutnya.

Namun dari data yang didapatnya. berdasarkan Laporan Keuangan Medco Energi, keuntungan JOB Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi menunjukkan peningkatan pendapatan semenjak 31 Maret 2009 hingga 31 Maret 2011. Pada 31 Maret 2009 keuntungan yang didapat sekitar Rp 6,1 triliun dan pada 31 Maret 2011 menjadi Rp 6,8 triliun.

Perampokan terhadap dana program pemberdayaan masyarakat juga dilakukan oleh para elit-elit politik borjuasi lokal. Dana yang seharusnya diperuntukkan bagi kesejahteraan masyarakat dikorupsi atau dirampok oleh elit-elit tersebut, untuk memperkaya dirinya, dana kampanye pilkada dan dana suksesi pemekaran wilayah "Morowali Utara", semenjak tahun 2004.

"Pembakaran terhadap sumur minyak Pertamina-Medco di Tiaka merupakan imbas dari kekecewaan warga terhadap perilaku pemilik modal dan elit politik. Namun pada akhirnya, masyarakat yang dirugikan malah dikriminalisasi," ucapnya.

Amuk massa yang membakar sumur minyak milik investor Joint Operating Body (JOB) Pertamina- Medo E&P Tomori juga mengakibatkan 22 orang, yang seluruhnya warga Desa Kolo Bawah, ditangkap dan dijadikan tersangka oleh aparat kepolisian dengan dalih pengrusakan dan pembakaran, atau lebih tepatnya kriminalisasi terhadap warga.[ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Selain Anak Buah Nusron, KPK Benarkan Tangkap Fahd A Rafiq

Selasa, 15 September 2026 | 00:25

Laut Bukan Tempat untuk Mati

Selasa, 15 September 2026 | 00:01

APKARINDO Perjuangkan Ksejahteraan Petani hingga Kejayaan Karet Rakyat

Senin, 14 September 2026 | 23:42

Anak Buah Nusron Kena OTT KPK Terkait Pengurusan HGB Summarecon

Senin, 14 September 2026 | 23:22

DPR Soroti Usia Kapal dan Kepatuhan Aturan Impor dalam Tragedi Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 23:02

Pemerintah Bahu Membahu Cegah Karhutla Masuk Zona Inti IKN

Senin, 14 September 2026 | 23:01

Pemilik Laundry Sukses Kembangkan Usaha dari Mekaar jadi BRILink Agen

Senin, 14 September 2026 | 22:38

OTT KPK Makin Mengerucut, Fahd A Rafiq hingga Bos Summarecon Dikabarkan Terjaring

Senin, 14 September 2026 | 22:37

Ketua KPK Benarkan OTT Pejabat ATR/BPN, Daftar Nama Belum Diungkap

Senin, 14 September 2026 | 21:59

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Selengkapnya