Alexander Sorloth, penyerang yang kini menjadi pusat perhatian, harus menelan pil pahit.
Ia dan keluarganya menjadi target serangan siber yang mengerikan berupa ancaman pembunuhan.
Tidak ada ruang dalam olahraga untuk kebencian yang melampaui batas. Sorloth mengungkapkan bahwa ia menerima pesan bernada kasar, termasuk instruksi kejam seperti "Bunuh diri saja, dasar bodoh".
Pesan-pesan ini bukan sekadar kritik atas performa di lapangan, melainkan serangan pribadi yang menyasar sisi kemanusiaan pemain dan orang-orang terdekatnya.
Keluarga, yang seharusnya menjadi pendukung utama, kini justru terseret dalam ketakutan akibat ulah segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab.
Fenomena ini menunjukkan sisi gelap dari anonimitas di media sosial, di mana penggemar dapat dengan mudah melempar kebencian tanpa memikirkan konsekuensi psikologis yang ditimbulkan.
Dunia sepak bola perlu mengambil langkah tegas. Ancaman nyawa dan kekerasan verbal bukan bagian dari rivalitas sehat. Dukungan kepada pemain harus tetap berpijak pada rasa hormat.
Jika kita terus membiarkan ruang siber dipenuhi racun seperti ini, kita tidak hanya kehilangan kemanusiaan dalam olahraga, tetapi juga membahayakan mentalitas para atlet yang berjuang di lapangan.
Sorloth hanyalah satu dari sekian banyak korban, dan ini adalah alarm bagi kita semua untuk menghentikan budaya toksik ini. Mari kembalikan sepak bola ke hakikatnya, sebagai pemersatu, bukan medan perang untuk menebar teror.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: