Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) Anas Urbaningrum turut mengomentari jalannya pertandingan melalui akun media sosialnya. Ia mengibaratkan nasib Mesir seperti seseorang yang dipaksa menjadi tersangka hingga divonis bersalah, meski menurutnya tuduhan yang diajukan tidak berhasil dibuktikan.
"Mesir seperti seseorang yang dipaksa menjadi tersangka, disidik dengan segala cara, didakwa di muka pengadilan. Dalam persidangan, jaksa tidak berhasil membuktikan dakwaannya, pembuktiannya compang-camping. Tetap dituntut bersalah. Pembelaan tidak dianggap, fakta-fakta persidangan diabaikan. Lalu hakim pun menvonis bersalah. Dihukum tanpa terbukti bersalah," tulis Anas, Rabu, 8 Juli 2026.
Menurut Anas, kondisi tersebut terjadi karena sejak awal Mesir "wajib dinyatakan bersalah". Sebaliknya, ia menilai Argentina berada pada posisi yang sangat diuntungkan.
Dalam analoginya, Argentina diibaratkan sebagai pihak yang patut diduga bersalah, tetapi justru dijauhkan dari seluruh proses hukum.
"Argentina. Seseorang yang sangat patut diduga bersalah. Tetapi karena sesuatu hal, untuk dipanggil menjadi saksi pun tidak boleh dilakukan. Apalagi untuk disidik dan didakwa di muka pengadilan. Mengapa? Karena wajib dijauhkan dari proses yang bahkan sekadar terkesan terserempet potensi untuk bersalah. Istimewa," tulisnya.
Anas kemudian menyimpulkan bahwa pertandingan tersebut menunjukkan adanya ketidakadilan yang bersifat struktural.
"Jadi, ada ketidakadilan hukum, bersifat struktural, itu bersifat 'TSM' (Terstruktur, Sistematis, dan Masif), yang harus diterima. Demikianlah kisah Mo Salah dkk tadi malam dalam pertandingan babak 16 besar melawan Messi dkk. Dramatik. Tragis!" pungkasnya.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: