Hingga penutupan Sesi I, IHSG anjlok 10,76 persen atau kehilangan 630,778 poin ke level 5.233,002.
Berdasarkan data RTI Business pukul 11.30 WIB, IHSG dibuka di level 5.863,780, sempat bergerak naik hingga 5.863,924 sebelum terperosok ke titik terendah 5.193,222. Indeks kemudian ditutup pada level 5.233,002.
Pelemahan ini membawa IHSG ke level terendah baru sepanjang tahun ini, melampaui posisi 5.342 yang tercatat saat kejatuhan pasar pada Senin, 8 Juni 2026. Tekanan jual yang besar juga terjadi setelah perdagangan sempat mengalami penghentian sementara atau trading halt pada awal sesi.
Mayoritas saham berada di zona merah. Sebanyak 771 saham melemah, hanya 14 saham menguat, sedangkan sisanya tidak mengalami perubahan harga.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi tiga saham dengan nilai transaksi terbesar.
Tekanan juga melanda seluruh indeks sektoral. Sektor barang baku (IDXBASIC) mencatat penurunan terdalam sebesar 12,96 persen, disusul sektor energi (IDXENERGY) yang melemah 12,21 persen dan infrastruktur (IDXINFRA) yang turun 12,13 persen.
Sektor industri (IDXINDUST) terkoreksi 10,79 persen, barang konsumen siklikal (IDXCYCLIC) turun 10,15 persen, dan barang konsumen non-siklikal (IDXNONCYC) melemah 9,70 persen.
Sementara itu, sektor kesehatan (IDXHEALTH) turun 10,42 persen, keuangan (IDXFINANCE) melemah 8,21 persen, properti (IDXPROPERT) terkoreksi 9,37 persen, teknologi (IDXTECHNO) turun 8,32 persen, serta transportasi (IDXTRANS) melemah 9,45 persen.
Pelemahan tajam juga terjadi pada indeks saham unggulan. Indeks LQ45 anjlok 12 persen ke level 519,264, sedangkan Jakarta Islamic Index (JII) turun 12,21 persen menjadi 304,245.
Indeks IDX30 terkoreksi 11,66 persen ke level 290,459, sementara MNC36 melemah 11,52 persen ke posisi 230,512.
Besarnya jumlah saham yang melemah dibandingkan saham yang menguat menunjukkan tekanan jual meluas di hampir seluruh pasar. IHSG pun mengakhiri Sesi I di dekat level terendah hariannya, mencerminkan kuatnya tekanan terhadap pasar saham domestik.
BERITA TERKAIT: