Pasar kini menghadapi dua arah yang berlawanan, yakni risiko gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah dan peluang bertambahnya pasokan setelah Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap sejumlah kapal pengangkut minyak.
Data Reuters pada Kamis, 15 Oktober menunjukkan harga minyak mentah Brent turun 1,39 Dolar AS atau 1,31 persen menjadi 104,67 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,02 Dolar AS atau 1,07 persen ke 94,07 Dolar AS per barel. Penurunan ini membalikkan kenaikan pada perdagangan sebelumnya.
Pada sesi sebelumnya, harga WTI sempat mencapai level tertinggi dalam tiga minggu. Kenaikan tersebut dipicu serangan kelompok Houthi terhadap kantor pusat perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, serta pernyataan Iran yang akan menggunakan taktik baru untuk menyasar kapal-kapal di Selat Hormuz.
Ancaman terhadap pasokan semakin besar setelah sebuah kapal kontainer dan kapal pengangkut barang curah dilaporkan tenggelam di dekat Selat Hormuz dalam dua insiden terpisah pada Rabu. Kedua kapal tersebut terkena proyektil. Dalam 10 hari terakhir, serangan terhadap pelayaran di kawasan itu meningkat tajam, sementara biaya pengiriman melonjak hingga mencapai rekor tertinggi.
Di tengah situasi tersebut, pemerintahan Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap kapal-kapal yang dikenal sebagai shadow fleet atau armada bayangan. Kapal-kapal ini sebelumnya digunakan untuk mengangkut minyak dan produk petroleum dari negara-negara seperti Rusia, Iran, dan Venezuela.
Seorang pejabat AS mengatakan, pembahasan tersebut berfokus pada kemungkinan mengizinkan pengangkutan minyak yang dianggap legal menggunakan kapal-kapal yang sebelumnya terkena sanksi. Langkah ini diharapkan dapat memperlancar pengiriman dan menekan biaya transportasi minyak yang meningkat akibat perang Iran.
Dari sisi pasokan, produksi minyak mentah Rusia naik 65.000 barel per hari pada September menjadi 8,43 juta barel per hari. Namun, angka tersebut masih 870.000 barel per hari lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Badan Energi Internasional (IEA) juga mencatat ekspor minyak mentah dari produsen Teluk Timur Tengah meningkat 4,4 juta barel per hari pada September, mencapai sekitar 75 persen dari tingkat sebelum perang.
Sementara itu, data awal American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 11,1 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Oktober. Penurunan ini jauh lebih besar daripada perkiraan analis yang disurvei Reuters. Meski demikian, harga minyak tidak banyak bereaksi terhadap data tersebut.
Data resmi persediaan minyak AS dari Energy Information Administration (EIA) dijadwalkan dirilis pada Kamis waktu setempat, setelah mengalami penundaan satu hari akibat libur Columbus Day. Data ini akan menjadi salah satu perhatian pasar untuk menilai arah harga minyak selanjutnya.
BERITA TERKAIT: