Hilirisasi Nikel Diperkuat, Indonesia Bidik Rantai Pasok Global Baterai EV

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/hani-fatunnisa-1'>HANI FATUNNISA</a>
LAPORAN: HANI FATUNNISA
  • Jumat, 09 Oktober 2026, 13:01 WIB
Hilirisasi Nikel Diperkuat, Indonesia Bidik Rantai Pasok Global Baterai EV
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani (Foto: Bakom RI)
Kecil Besar
rmol news logo Pemerintah terus memperkuat hilirisasi nikel untuk membangun ekosistem industri kendaraan listrik (EV) yang terintegrasi. 

Langkah tersebut diarahkan agar Indonesia mampu mengambil peran strategis dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik, didukung investasi yang terus berkembang dari pengolahan bahan baku hingga komponen baterai.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, penguatan ekosistem industri tersebut terlihat dari aktivitas di dua kawasan industri utama, yakni PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

"Selama ini ekspor yang terjadi dari kawasan ini (IWIP) kurang lebih 11 miliar dolar AS. Kalau digabungkan dengan kawasan IMIP, total ekspornya mencapai 28 miliar dolar AS atau 10 persen dari total ekspor Indonesia," ujar Rosan di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, dikutip Jumat, 9 Oktober 2026.

Besarnya skala industri di kedua kawasan itu juga tercermin dari kapasitas listrik yang telah terpasang maupun yang sedang dibangun. Rosan menyebut, kapasitas listrik di IWIP telah melampaui 7,1 gigawatt (GW), sedangkan di Morowali mencapai 8,8 GW.

"Jadi ini jauh lebih besar daripada seluruh pemakaian total listrik di Singapura yang (sebesar) 13,1 gigawatt. Jadi dua industri ini sudah lebih besar dari Singapura energi listriknya," jelasnya.

Menurut Rosan, kapasitas industri dan besarnya investasi yang masuk menjadi modal penting bagi Indonesia untuk membangun ekosistem baterai kendaraan listrik secara menyeluruh. 

Pengembangan hilirisasi nikel pun tidak hanya berfokus pada pengolahan bahan mentah, tetapi juga mendorong industrialisasi hingga proses daur ulang baterai.

"Ini akan menjadikan the whole ecosystem ada di sini. Kita akan menjadi rantai pasok global baterai kendaraan listrik," tegasnya.

Rosan menambahkan, pengembangan proyek-proyek baru di Morowali akan memperluas rantai industri baterai EV hingga tahap daur ulang. 

Sementara itu, investasi baru dalam proyek strategis di kawasan IWIP mencapai 10,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp180 triliun, dengan empat proyek senilai 3,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp60 triliun telah memasuki tahap komersialisasi dan ekspor perdana, sedangkan enam proyek senilai 6,8 miliar dolar AS memasuki tahap peletakan batu pertama.

"Dan tentunya hilirisasi ini ujungnya adalah industrialisasi. Di Morowali ini dengan proyek-proyek yang baru ini, ini akan menyebabkan kita mempunyai the whole ecosystem of EV battery sampai dengan recycle baterainya," kata Rosan.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA