Penulis: Muhamad Asep Zaelani
Kata Pengantar: Sari Esayanti, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Indonesia (API-IMA)
Artikel Khusus: Ditto Santoso, Verlyana Hitipeuw, dan Sam August Himmawan
Penerbit: Klikplus Asia
Cetakan pertama: September 2026
ISBN: 978-623-891119-6
Apakah external affairs hanya soal siapa yang kita kenal? Profesi ini kerap direduksi menjadi mengenal banyak pejabat, memiliki jaringan luas, dan pandai melobi. Bahkan, Garis Depan: Catatan Taktis Praktisi External Affairs memuat judul yang provokatif, “Golf, Karaoke, dan External Affairs”. Judul itu bukan sekadar sindiran. Asep Zaelani justru hendak membongkar anggapan bahwa kekuatan external affairs terletak pada banyaknya koneksi. Ia mengajak melihat untuk apa relasi dibangun, risiko apa yang dikelola, dan nilai apa yang diberikan kepada organisasi. Perspektif ini lahir dari pengalamannya lebih dari dua dekade di bidang External Affairs, Community Development, dan Permitting di industri pertambangan dan pengolahan sumber daya alam, tempat keputusan perusahaan bersinggungan dengan pemerintah, masyarakat, regulasi, media, lahan, lingkungan, dan berbagai kepentingan lain.
Untuk itulah, Garis Depan terasa sebagai buku yang lahir dari pengalaman lapangan. Salah satu gagasan pentingnya muncul ketika penulis menjawab apa yang pertama-tama dilakukan jika memimpin external affairs, yaitu memahami tujuan bisnis perusahaan. Dalam hal ini, bukan langsung menemui stakeholder dan bukan pula sekadar memperluas jaringan serta bukan pula menyusun sebanyak mungkin agenda pertemuan.
Ia memilih untuk memahami terlebih dahulu tujuan bisnis perusahaan. Pilihan tersebut tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung perubahan cara pandang yang cukup mendasar. External affairs tidak semestinya bergerak hanya karena ada pihak luar yang perlu ditemui. Ia harus memahami apa yang sedang diperjuangkan perusahaan sehingga setiap hubungan, komunikasi, dan keterlibatan dengan pihak eksternal memiliki arah yang jelas.
Tanpa pemahaman tersebut, kesibukan mudah menyamar menjadi produktivitas. Kalender dapat penuh dengan pertemuan, tetapi belum tentu ada persoalan bisnis yang menjadi lebih mudah diselesaikan. Jaringan dapat bertambah luas, tetapi belum tentu perusahaan menjadi lebih siap menghadapi risiko.
Dari sinilah, penulis kemudian menyusun External Affairs Framework. Setelah memahami business goal, praktisi perlu memahami organisasi dan tim internal. Berikutnya adalah stakeholder mapping, stakeholder profiling, penyusunan engagement plan, eksekusi, monitoring dan evaluasi, hingga continuous improvement.
Urutan tersebut penting. Ia mengubah cara melihat external affairs dari aktivitas yang berpusat pada relasi menjadi fungsi yang berpusat pada tujuan. Koneksi, dengan demikian, hanyalah instrumen. Hal yang lebih penting adalah pengetahuan mengenai siapa yang perlu diajak berhubungan, mengapa hubungan tersebut penting, bagaimana kepentingannya dipahami, dan apa yang ingin dicapai melalui engagement tersebut. Stakeholder mapping membantu mengenali pihak yang memiliki pengaruh dan perlu diprioritaskan. Stakeholder profiling membawa proses itu lebih jauh dengan memahami kepentingan, sikap, pihak yang memengaruhi, serta pendekatan komunikasi yang sesuai.
Pada titik ini, membangun relasi tidak lagi sekadar pekerjaan sosial. Ia menjadi pekerjaan analitis. Seorang praktisi external affairs harus mampu membaca lingkungan tempat perusahaan beroperasi. Ia perlu memahami bahwa di balik sebuah tuntutan mungkin terdapat kepentingan yang lebih besar. Perubahan sikap stakeholder dapat menjadi sinyal risiko, sementara persoalan yang tampak kecil di satu titik bisa berkembang menjadi persoalan yang lebih luas jika tidak ditangani.
Perspektif inilah yang membuat buku ini dekat dengan pembahasan mengenai mitigasi risiko. Penulis menunjukkan bahwa proyek yang secara teknis layak dan memiliki pendanaan memadai tetap dapat menghadapi hambatan ketika persoalan stakeholder, kondisi sosial masyarakat, kebutuhan lahan, atau perubahan kebijakan tidak dikelola dengan baik. Dengan demikian, risiko nonteknis tidak lagi dapat dianggap sebagai urusan tambahan yang ditangani setelah persoalan teknis selesai. Ia merupakan bagian dari lingkungan bisnis yang perlu dibaca sejak awal.
Daftar pembahasan dalam Garis Depan memperlihatkan luasnya medan tersebut. Ada mitigasi risiko proyek, dunia kerja external affairs, disrupsi, stakeholder mapping dan profiling, hubungan dengan birokrasi dan pemerintah, jejaring, negosiasi, konflik sosial, isu viral, media relations, hingga kebutuhan membangun keselarasan di dalam perusahaan.
Berbagai topik tersebut pada akhirnya bertemu pada satu persoalan, yakni bagaimana perusahaan dapat menjalankan kepentingannya tanpa mengabaikan lingkungan sosial tempat ia beroperasi. Untuk itulah, kepercayaan menjadi tema yang penting. Kepercayaan tidak dapat dibangun ketika krisis sudah terjadi. Ia dibentuk pada masa ketika perusahaan belum membutuhkan bantuan siapa pun. Hubungan yang dipelihara dalam situasi normal dapat menjadi ruang dialog ketika tekanan muncul. Sebaliknya, hubungan yang hanya diaktifkan ketika perusahaan membutuhkan sesuatu akan mudah terlihat sebagai transaksi.
Kata pengantar dari Sari Esayanti menekankan hal serupa. Jejaring dan kepercayaan perlu dibangun jauh sebelum krisis. Ketika perusahaan menghadapi persoalan, relasi yang telah memiliki fondasi kepercayaan dapat membuka ruang komunikasi dan membantu meredakan ketegangan. Namun, hubungan tersebut tetap harus ditopang fakta, data, transparansi, etika, dan integritas. Hal ini menjadi penting ketika perusahaan berhadapan dengan isu yang berkembang cepat. Di era ketika sebuah persoalan dapat menyebar luas dalam waktu singkat, respons komunikasi saja tidak selalu cukup. Reputasi yang sudah dibangun sebelumnya dapat menjadi modal untuk menghadapi tekanan.
Namun, buku ini tidak berhenti pada gagasan bahwa perusahaan membutuhkan banyak teman. Justru sebaliknya, penulis memperlihatkan bahwa kualitas relasi lebih penting daripada jumlahnya. Bahkan, pihak ketiga yang memiliki pengaruh pun tidak seharusnya diperlakukan sebagai pengeras suara perusahaan. Independensi perlu dijaga. Pandangan yang disampaikan harus memiliki dasar fakta dan data, sementara transparansi dan integritas menjadi syarat agar relasi tidak berubah menjadi manipulasi.
Di sini, external affairs berhadapan dengan tantangan etikanya sendiri. Semakin strategis sebuah jaringan, semakin besar pula godaan untuk melihat hubungan semata-mata sebagai alat mencapai kepentingan perusahaan. Padahal, hubungan yang bertahan dalam jangka panjang justru membutuhkan kredibilitas dari semua pihak.
Buku ini juga menarik karena tidak menempatkan persoalan eksternal secara terpisah dari kondisi internal. Perusahaan yang ingin membangun hubungan baik dengan pemerintah, masyarakat, dan media perlu terlebih dahulu memiliki keselarasan di dalam organisasi. Dukungan internal menjadi penting karena praktisi external affairs tidak mungkin membawa pesan yang konsisten ke luar apabila berbagai bagian perusahaan sendiri bergerak dengan pemahaman yang berbeda.
Dengan kata lain, kekuatan ke luar sebagian ditentukan oleh seberapa solid perusahaan ke dalam. Meski demikian, pengalaman juga menjadi batas buku ini. Pengalaman penulis terutama dibentuk oleh dinamika industri pertambangan dan pengolahan sumber daya alam. Kerangka yang lahir dari lingkungan tersebut tentu tidak dapat diterapkan begitu saja pada setiap industri, wilayah, atau karakter stakeholder. Menariknya, penulis sendiri menyadari keterbatasan tersebut.
Ia tidak menganggap External Affairs Framework sebagai satu-satunya cara. Regulasi dapat berubah, organisasi berubah, stakeholder berubah, dan setiap proyek memiliki konteksnya sendiri. Karena itu, kerangka tersebut lebih tepat dipahami sebagai pegangan agar pekerjaan tetap memiliki arah daripada sebagai resep yang harus diterapkan secara kaku. Sikap tersebut justru membuat Garis Depan lebih menarik untuk dibaca secara kritis.
Buku ini tidak perlu ditempatkan sebagai kitab yang memberikan jawaban untuk setiap persoalan. Ia lebih berguna sebagai percakapan panjang dengan seorang praktisi yang mencoba menata pengalaman bertahun-tahun menjadi pengetahuan yang dapat dibagikan. Bagi profesional muda, pengalaman tersebut dapat menjadi jalan pintas untuk memahami kompleksitas pekerjaan. Bagi praktisi berpengalaman, ia dapat menjadi cermin untuk melihat kembali praktik yang selama ini dijalankan.
Sementara, bagi perusahaan, buku ini membawa satu pengingat yang lebih mendasar: external affairs bukan sekadar fungsi yang dibutuhkan ketika perusahaan menghadapi masalah. Ia adalah bagian dari cara perusahaan memahami lingkungan tempatnya hidup dan beroperasi.
Pada akhirnya, mungkin ukuran keberhasilan seorang praktisi external affairs bukanlah berapa banyak nomor telepon yang tersimpan di ponselnya, berapa banyak pejabat yang dikenalnya, atau berapa banyak pertemuan yang berhasil dijadwalkan.
Justru ketika pekerjaan external affairs berhasil, keberhasilannya sering tidak terlihat. Tidak ada konflik yang membesar, tidak ada krisis yang menjadi berita, dan tidak ada hubungan yang harus dipulihkan karena telah dijaga jauh sebelumnya. Mungkin, di situlah makna berada di garis depan. Dalam hal ini, bukan tampil paling depan ketika masalah terjadi, melainkan bekerja jauh sebelumnya agar masalah tidak perlu sampai terjadi.
BERITA TERKAIT: