"
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Saya selaku Kapolri beserta Ketua Umum Bhayangkari, mewakili seluruh keluarga besar institusi Polri dan Bhayangkari, menyampaikan duka cita yang mendalam," kata Kapolri dalam keterangan resmi.
Menurut Kapolri, Eyang Meri bukan sekadar saksi sejarah, tetapi juga pelita keteladanan bagi Polri.
"Semasa hidupnya, beliau menjadi inspirasi nyata bagi seluruh generasi penerus Polri dan Bhayangkari untuk terus menjaga marwah institusi," kata Kapolri.
Kapolri pun berdoa agar Eyang Meri mendapatkan tempat mulia di sisi Allah SWT.
"Kepada keluarga besar yang ditinggalkan, semoga senantiasa diberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan," kata Kapolri.
Eyang Meri meninggal usai menjalani perawatan di Rumah Sakit Kramatjati pada hari ini sekira pukul 13.24 WIB.
Jenazah Eyang Meri disemayamkan di rumah duka di Pesona Khayangan Estate DG-DH 1 RT 003 RW 028, Mekarjaya, Depok.
Rencananya jenazah akan dimakamkan di Giri Tama Tonjong, Kabupaten Bogor pada Rabu 4 Februari 2026.
Eyang Meri diketahui lahir pada 23 Juni 1925. Ia menikah dengan mantan Kapolri Hoegeng pada 31 Oktober 1946 di Yogyakarta.
Dari pernikahannya, Hoegeng-Meri dikaruniai tiga orang anak, yakni Sri Pamujining Rahayu, Reni Soerjanti dan Aditya Soegeng Roeslani.
Kesederhanaan Eyang Meri membuatnya menjadi sosok pedoman dan teladan para insan Bhayangkara di Indonesia.
BERITA TERKAIT: