Sembilan Calon Presiden 2024
Sembilan Calon Presiden 2024
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Blitz of Belfast 1941: Empat Serangan Paling Tragis yang Hancurkan Kota Penting di Irlandia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Jumat, 15 April 2022, 06:18 WIB
Blitz of Belfast 1941: Empat Serangan Paling Tragis yang Hancurkan Kota Penting di Irlandia
Kota Belfast hancur diserang bom Jerman/Net
rmol news logo Kota terbesar sekaligus terpenting di Irlandia Utara ini dikenal sebagai kota yang 'tidak dijaga'. Aparat dan juga menduduknya sejauh ini merasa aman-aman saja. Malam itu, semua berubah. Rumah bagi beberapa industri paling vital ini hancur lebur digempur serangan besar dan paling mengerikan dalam sejarahnya.

Banyak orang di Irlandia Utara berpikir bahwa Belfast berada di luar jangkauan Luftwaffe, Angkatan Udara Jerman. Namun nyatanya, kota ini justru menjadi target selama Perang Dunia Kedua karena galangan kapal Harland dan Wolfff serta basis manufaktur pesawatnya yang besar.

Malam itu, 15 April 1941, 200 pembom Jerman meluncurkan serangannya yang membabibuta yang menargetkan lokasi militer dan pabrik di seluruh kota. Sekitar 900 orang tewas dan 1.500 terluka.

Kerusakan kota begitu besar sehingga pemerintah di Stormont meminta bantuan Republik Irlandia. Mereka mengirimkan tiga belas alat pemadam kebakaran yang diawaki oleh 71 relawan. Mereka tinggal selama tiga hari untuk membantu.

Serangan malam itu adalah serangan yang kedua dan dikenal sebagai Easter Raid'. Sebelumnya, pada 7-8 April 1941, Belfast mengalami serangan udara pertama dari empat serangan udara Luftwaffe. Sedikitnya 1.000 orang tewas saat kota itu tidak siap dan tidak terlindungi. Serangan pertama itu dikenal sebagai 'The Dockside Raid'.

Serangan ketiga terjadi pada sore dan pagi hari pada 4 dan 5 Mei.  Korban tewas mencapai 150 orang. Lalu serangan berikutnya adalah pada  5 – 6 Mei, yang kemudian dikenal dengan  ‘Fire Raid’ on Belfast.

Selain korban jiwa yang besar, kerusakan parah juga terjadi di seluruh kota, karena setengah dari rumah di kota Belfast terkena bom yang pada gilirannya menyebabkan 100.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Serangkaian serangan bom pada musim semi 1941 itu kemudian dikenal sebagai 'Blitz of Belfast'.

Para saksi sejarah mengatakan, ketika bom dijatuhkan di pemukiman, warga yang tidak berdosa berusaha lari ke mana pun untuk mencari selamat, tetapi kebanyakan tak sempat menyelamatkan diri dan tubuhnya hancur bersama ledakan. Di jalan-jalan di segala penjuru kota Belfast, terlihat mayat-mayat tergeletak dengan kondisi yang mengenaskan.  

Ini adalah peristiwa paling berbahaya dalam sejarah kota itu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meminjam istilah Jimmy Doherty dalam tulisannya The Memoirs of a Belfast Air Raid Warden, serangan itu menimbulkan  traumatis, tragis, dan tidak terduga.

"Belfast tidak siap ketika Blitz dimulai. Ia memiliki terlalu sedikit tempat perlindungan dan senjata anti-pesawat (AA). Pesawat tempur hanya diperlengkapi untuk operasi siang hari, tidak ada lampu sorot," kata Doherty.

Dampak serangan itu sangat menghancurkan untuk kota yang terkenal dengan penyediaan perumahan yang tidak memadai, menurut Joseph Quinn, pengamat yang  mengajar Sejarah Irlandia Modern di University College Dublin (UCD).

"Lima puluh enam ribu rumah hancur atau rusak tidak dapat diperbaiki, itu berarti lebih dari 30 persen dari persediaan perumahan Belfast. kemudian ada lebih dari 100.000 warga sipil meninggalkan kota pada hari-hari berikutnya. Mereka yang tidak dapat menemukan perlindungan di kota-kota dan desa-desa di utara, atau di Dublin di mana ribuan pengungsi yang tidak ditampung berbondong-bondong, tidur di rumah-rumah pertanian, lumbung atau ladang terbuka di pedesaan," tulisnya.

Dampak paling mencolok dari Belfast Blitz adalah pengaruhnya terhadap orang-orang di selatan. Pada bulan-bulan berikutnya, tingkat desersi dari Angkatan Pertahanan Irlandia meroket, dengan lebih dari 2.700 akan meninggalkan posisinya.

"Jumlah rekrutan 'Éire' (istilah untuk orang Irlandia) yang didaftarkan oleh otoritas perekrutan militer di Irlandia Utara, adalah lebih dari 12.000 selama tahun 1941-42. Tidak diketahui berapa banyak yang bergabung dengan pasukan di Inggris, tetapi dilaporkan meningkat secara dramatis," kata Quinn.

Meskipun, Negara Irlandia akan tetap netral selama konflik, hubungan Dublin yang sebelumnya sangat baik dengan Berlin ternoda.

Pada akhirnya, 'Blitz Belfast' menjadi sebuah kampanye yang dirancang untuk menghancurkan orang-orang di utara, menurut Quinn, membuat sebagian besar penduduk Irlandia dengan tegas melawan Nazi Jerman. rmol news logo article
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA