Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

TENDANGAN BEBAS ADHIE MASSARDI

Italia Vs Spanyol: Bisa Berhasil Dua Periode, Syukur Alhamdulillah

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/adhie-m-massardi-5'>ADHIE M. MASSARDI</a>
OLEH: ADHIE M. MASSARDI
  • Selasa, 06 Juli 2021, 19:26 WIB
Italia Vs Spanyol: Bisa Berhasil Dua Periode, Syukur Alhamdulillah
Ilustrasi/Net
Di final Piala Eropa 2012, Spanyol pernah menggasak Italia dengan telak (4-0). Tapi kini Gli Azzuri dibesut Roberto Mancini, pelatih spesialis di masa krisis.

DUNIA Sepakbola adalah dunia “bayar kontan”. Pemain, pelatih, atau manajer yang dianggap gagal akan langsung ditendang. Di lapangan hijau memang tak ada tempat bagi The King of Lip Service.

Roberto Mancini adalah dampak dari tradisi bayar kontan di dunia sepakbola. Ia dipanggil FIGC (Persatuan Sepakbola Se-Italia) segera setelah pelatih Gian Piero Ventura ditendang PSSI karena gagal bawa tim Azzuri nembus putaran final Piala Dunia 2018.

Itulah malapetaka terburuk dalam sejarah persepakbolaan negeri spaghetti itu. Tapi membawa Roberto Mancini ke titik terang sebagai pelatih baru timnas Italia mengambil alih posisi sementara Luigi Di Biagio setelah menggantikan Gian Piero Ventura.

Sebagai pemain, Mancini pernah jadi bintang Samdoria (1982-1997) yang bermarkas di Genoa. Di klub yang pernah mengontrak pemain Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto dan Kurnia Sandi ini, Mancini main 424 kali dan nyetak 132 gol.

Bintang Mancini kurang bersinar bukan sebab ia buruk sebagai striker. Tapi pada masanya, langit bola Italia dikilaukan oleh penampilan Gianfranco Zola, Roberto Baggio dan kemudian Francesco Totti dan Alessandro Del Piero.

Justru ketika dia mulai terjuan ke dunia kepelatihan (2001) bintangnya mencorong. Klub yang pernah dibesutnya antara lain Fiorentina, Lazio, Internasional (Milan) dua kali, Manchester City, dan terakhir, sebelum melatih tim Azzuri, Mancini menangani Zenit Saint Peterburg, salah satu klub elite di Rusia.

Satu hal yang menarik, Mancini diminta melatih kebanyakan ketika mental para pemilik klub dan pemainnya down. Kehilangan kepercayaan. Mancini lalu merombak tipe dan para pemain, sehingga saat klub kembali merumput bisa meraih prestasi.

Begitu juga di timnas Italia. Setelah babak belur tersungkur di bapak kualifikasi Piala Dunia (2018), Mancini sukses mengembalikan kepercayaan diri para pemain dan masyarakat pecinta bola negeri pizza.

Mancini, 56 tahun, bukan hanya mendulang nilai sempurna di penyisihan Piala Dunia 2022, tapi sukses membawa Si Biru Langit manggung di babak semi final Piala Eropa, untuk menghadang Tim Matador Spanyol.

Melihat rekam jejak tim asuhan Luis Enrique di lapangan hijau selama ini, khususnya di ajang Euro 2020 ini, memang tampak kurang dinamis. Sergio Busquets (Barcelona) dkk bahkan nyaris dilibas Swiss di fase knockout 16 besar.

Kalau saja para pemain Swiss tidak banyak melakukan kesalahan hingga di babak perpanjangan waktu tinggal 10 pemain, dan saat adu penalti lebih hati-hati karena tiga algojonya gagal mengeksekusi penalti, Spanyol akan lebih cepat pulang kandang.

Memang Spanyol punya sejarah yang dicatat dengan tinta emas di ajang Piala Eropa. Hanya Jerman yang menyamainya menjuarai Piala Eropa sebanyak tiga kali (1964, berturut-turut 2008 dan 2012) dan diseling (2010) juara Piala Dunia.

Periode keemasan Spanyol memang pada tarikh 2006-2008 saat dilatih José Luis Aragonés Suárez, dan 2008-2016 ketika ditangani pelatih gaek Vicente del Bosque González.

Pada zaman itu, Spanyol satu-satunya negara yang bisa menguasai Benua Biru Eropa dalam dua periode langsung. Jerman tiga kali juara tapi pada periode yang tidak nyambung (1972, 1980, 1996).

Dini hari nanti (Rabu, 7/7) pukul 02.00, Spanyol yang grafiknya sedang turun akan berhadapan dengan Italia yang grafiknya sedang naik.

Saya percaya, di tangan Roberto Mancini sekarang ini, Gli Azzuri yang memiliki skuad andal Lorenzo Insigne, Ciro Immobile, Matteo Pessina, Manuel Locatelli, Nicolo Barella dan Federico Chiesa akan melenggang ke final, tentu saja, setelah membuat Sang Matador tersungkur dari kudanya.

Bagi Spanyol dengan kualitas permainan seperti sekarang ini, bisa mencapai semi final sudah merupakan prestasi besar. Karena toh pernah menjuarai Piala Eropa dalam dua periode langsung. Syukur alhamdulillah. rmol news logo article
EDITOR: DIKI TRIANTO

ARTIKEL LAINNYA