BRI Kenakan Biaya Rp 125 ribu Setiap Transaksi Non Nasabah

Rabu, 23 September 2020, 12:00 WIB

Wina Armada Sukardi/Ist

LANTARAN kudu bayar sesuatu kepada sebuah perusahaan BUMN  di rekening Bank Rakyat Indonesia atau  BRI (Cabang Mutiah), untuk memudahkan  transer dari dan  ke bank yang sama, Senin, 2192020, saya memilih untuk transfer juga dari BRI.

Sekalian pulang ke rumah, saya memilih BRI Cabang Pembantu di Radio Dalam. Transfer tidak saya lakukan melalui M-baking atau ATM karena jumlahnya jauh melebihi limit M-banking dan ATM saya.

Begitulah, setelah memakai APD lengkap di mobil saya (bersama anak lelaki) masuk ke bank tersebut. Satpam menyambut dengan ramah, dan bertanya, “Sudah menjadi nasabah BRI?”

“Belum,” jawab saya, karena saya memang bukan atau belum jadi nasabah BRI. Saya ke BRI karena rekening perusahaan yang harus saya bayar di BRI. Jadi, pikir saya, transfer dari dan ke BRI lebih mudah dan lebih murah.  Waktu saya masuk pintu, satpam  bertanya apakah saya sudah nasabah BRI, saya tidak berpikir apa-apa.

Saya pun mengisi formulir/form. Saya selintas mendengar dari percakapan di pengunjung lain, kalau bukan nasabah BRI harus menunjukan KTP dan memberikan fotocopy KTP. Makanya saya pun mempersiapkan KTP saya berikut foto copynya. Dan saya ikut mengantri.

Dari segi protokol kesehatan, sudah bagus. Batas antar pengantri diberi tanda, sehingga jarak antar penggantri terjaga minimal satu meter, dan dilaksanakan dengan tertib. Tapi perkara layanan lain soal.

Saya perhatikan para teller memberi kesan kurang terlatih melalukan pekerjaannya dengan cepat. Walhasil, setiap nasabah dilayani kurang cepat, kalau tak mau disebut lambat. Seorang nasabah yang mencairkan beberapa cek, saya hitung baru selesai sekitar 45 menit! Nasabah lain rata-rata, paling cepat 15 menit! Tak heran walaupun hanya ada beberapa nasabah, saya harus antri sekitar 1 jam! (cek CC TV yang ada disitu).

Cuma ada satu nasabah pensiunan yang datang setelah saya, karena dia pensiunan dan sudah tua, memakai sarung dan peci, dilayani lebih dahulu, dan sebelum 10 menit sudah selesai. Kalo yang ini sih bagus. Saya pun setuju para sepuh pensiunan harus didahulukan. Pendekatan yang humanis.

Tapi terhadap nasabah lain, pelayanannya lelet. Namun faham ini bank yang ditujukan untuk rakyat, khalayak umum, saya sabar menanti. Sampai akhitnya tibalah giliran saya.

Saya serahkan formulir/form, berikut KTP dan fotocopy KTP, sambil menyiapkan uang yang bakal saya setor.

“Begini Pak, karena Bapak setor tunai, dan belum konfirmasi, jadi bapak kena biaya Rp 125 ribu,” jelas teller, seorang lelaki muda.

“Jadi, kalau saya udah konfirmasi, saya tidak dikenakan biaya itu,ya?” jawab saya agak terkejut.

“Bentar ya Pak,” kata si teller pergi konsultasi dengan atasannya. Waktu kembali dia menjelaskan lagi, ”Iya Pak.”

“Emang kenapa begitu?” lagi saya bertanya ingin tahun.

“Iya Pak, soalnya kami gak boleh menyimpan uang kas terlalu banyak,” jawabnya.

Kening saya berkerut. Heran.

“Coba mana peraturannya?” ujar saya.

Sang teller mengambil list kertas dan menunjukannya kepada saya. Saya lihat dan periksa. Disitu tertera, semua yang bukan nasabah BRI dan bertransaksi di BRI dikenakan biaya Rp 125 ribu. Tak peduli berapa pun transaksi yang ingin kita lakukan, pokoknya setiap transaksi kita dikenakan “denda” Rp 125 ribu. Itu di luar biaya administrasi transaksi.

“Ini artinya bukan soal konfirmasi dulu atau bukan, tapi semua nasabah non BRI dikenakan denda Rp 125 ribu setiap transaksi,” tandas saya. “Beda dengan penjelasan Anda!”

“Iya Pak!”

Saya tatap dia dengan tajam. Sadarlah saya, teller ini karyawan baru atau sedang magang, sehinga kurang faham peraturan yang berlaku.

“Coba tanya atasan Anda, gimana ini setoran saya?” ujar saya.

Dia mengangguk dan pergi lagi ke atasannya. Sementara itu karena sudah pukul 15.00. bank ditutup dan tidak lagi menerima masabah, tapi yang sudah terlanjur di dalam seperti saya masih tetap dilayani.

Si teller kembali, dan berkata, “Iya Pak, tetap harus bayar!”

“Oh begitu?” ucap saya seraya menyambung,” Boleh ketemu kepala Cabang?”

Sebagai wartawan dan sering berhubungan dengan bank, sebenarnya saya tahu dimana ruang kepala cabang dan saya dapat nyelonong langsung masuk ke ruang kepala cabang. Tapi saya mencoba bersikap santun. Teller itu datang lagi ke saya.”Tetap harus bayar Rp 125 ribu Pak!” katanya.

Tadinya saya ingin memarahi teller ini. Wong yang saya minta ketemu kepala cabang, kok jawaban tetap harus bayar yang itu. Tapi saya pikir, ini teler baru, jadi memang tak faham apa-apa.

Lagipula jangan-jangan dia tidak memberi tahu langsung ke kepala cabang ada yang mau ketemu, melainkan melalui atasannya. Cuma bagi saya, sebagai lembaga keuangan perbankan  seperti BRI kalo ada orang yang mau ketemu kepala cabang atau pimpinan terkait pelayanan di cabang bank itu, harusnya ditanggapi dengan baik. Disimak apa yang terjadi.

Mungkin dapat jadi masukan dan dapat memberikan penjelasan yang lebih rasional, bikan membiarkan cuek bebek. Kalo  pun bukan kepala cabang, yang mungkin kala itu sedang sibuk, dapatlah mengutus salah satu pimpinan di bank itu.

Dengan begitu, nasabah atau masyarakat tidak merasa diabaikan. Tapi BRI ini memang luar biasa. Sudah pelayanan lambat, mengenakan fee Rp 125 ribu buat yang belum nasabah BRI, pimpinannya pun tak hirau ada orang yang mau bertemu.

Sebenarnya, saya juga dapat menceritakan kasus ini kepada temen-temen pejabat BRI Pusat, tapi saya pikir tak perlulah karena publik lebih layak mengetahuinya.

“Ya sudah kalo memang tetap harus bayar Rp 125 ribu. Tapi saya tak mau,” tegas saya. Form/formulir  yang saya udah isi, saya kembalikan kepadanya dan saya minta balik KTP dan forocopy KTP.

“Tapi cerita ini, izin ya, saya nanti mau posting di media sosial ya? Yang faktual saja kok,” kata saya.

Teller itu bengong sejenak dan mengangguk.

Rupanya perusahaan yang saya mau bayar juga punya rekening di Bank Mandiri. Kebetulan saya punya Tabungan (ATM) di Mandiri. Maka besoknya, Selasa, 2292020, saya transfer/setor di Bank Mandiri di Bintaro. Ikut antrian sekitar 10 menit. Lantas tak  lebih dari 5  menit di teller, semuanya beres. Biaya? Nol!

Menteri BUMN Erick Thohir dan para petinggi BRI, tolong dipertimbangkan kembali biaya Rp 125 ribu yang dikenakan  BRI terhadap setiap transaksi di BRI buat nasabah non BRI. Ingat, segmen BRI lebih ke menengah bawah dan masyarakat di pedesaan. Uang Rp 125 ribu buat mereka relatif besar. Bolehlah mengambil fee, tapi jangan kegedeaan kayak gitu. Apalagi persaingan perbankan lagi sengit.

Tabik!

Wina Armada Sukardi
Wartawan senior

Kolom Komentar


Video

Wanita Terbakar Dalam Mobil di Sukoharjo, Diduga Korban Pembunuhan

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

DENDI RAMADHONA DAN PESAWARAN

Rabu, 21 Oktober 2020
Video

Diduga Melanggar, Bawaslu Panggil Calon Bupati Semarang

Kamis, 22 Oktober 2020

Artikel Lainnya

Hari Santri Nasional, Pandemi Covid-19 Dan Akselerasi Ekonomi
Publika

Hari Santri Nasional, Pandem..

22 Oktober 2020 22:18
Solusi Ekonomi Untuk Selamat Di Kuartal IV 2020
Publika

Solusi Ekonomi Untuk Selamat..

22 Oktober 2020 15:34
Gulungan Isu Publik Di Media Sosial
Publika

Gulungan Isu Publik Di Media..

22 Oktober 2020 15:31
Cerita Yang Tersisa Dari UU Cipta Kerja
Publika

Cerita Yang Tersisa Dari UU ..

22 Oktober 2020 07:55
Difitnah, KAMI Terus Melangkah
Publika

Difitnah, KAMI Terus Melangk..

21 Oktober 2020 09:43
Prof Mahfud, Riwayatnya Kini
Publika

Prof Mahfud, Riwayatnya Kini

21 Oktober 2020 09:17
Distorsi Demokrasi
Publika

Distorsi Demokrasi

21 Oktober 2020 01:29
Setahun Penuh Gaduh Dan Demo Yang Dirindukan
Publika

Setahun Penuh Gaduh Dan Demo..

20 Oktober 2020 09:55