Dimensi Spiritual Dalam Menyikapi Realitas Politik

Kamis, 14 Mei 2020, 03:16 WIB

Muhammad Najib/Net

MENGHADAPI realitas politik baik terkait dengan perebutan kekuasaan di sebuah negara, atau pertarungan antara negara yang berebut pengaruh, berebut sumber-sumber ekonomi, ataupun wilayah strategis tidaklah mudah. Karena setiap pilihan akan membawa konsekwensi secara langsung maupun tidak langsung, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dalam sejarah terbukti banyak sekali aktor politik termasuk para pejabat negara yang salah dalam menentukan sikap, disebabkan tidak bersikap rasional dan objektif dalam melihat realitas yang ada. Kepetingan personal atau kelompok cendrung berada di depan, kemudian menggiring pada pilihan yang keliru.

Lalu bagaimana jika kita hendak menyikapinya dalam perspektif spiritual? Peristiwa politik yang menjadi latar-belakang turunnya surah Ar Rum (ayat 2-4), bisa menjadi salah satu rujukan dalam membahas masalah ini.

Tiga ayat ini secara eksplisit dan lugas menjelaskan peristiwa kalahnya Bizantium (Romawi Timur) oleh Persia pada 620 M. Kemudian menjelaskan dalam beberapa tahun kemudian Bizantium akan mengalahkan balik Persia.

Surah yang saat diturunkan sangat kental dengan ramalan ini, sehingga menjadi bahan olok-olok tambahan bagi kaum kafir Quraisy di Makkah, yang menentang kerasulan Muhammad. Apalagi sikap politik mereka yang mendukung Persia, membuat mereka sangat gembira dengan kekalahan Bizantium. Bahkan dari beberapa sumber menceritakan, sebagian masyarakat  mengadakan pesta sebagai bentuk ungkapan kegembiraan.

Enam tahun kemudian, terjadi perang besar kembali antara dua super power dunia saat itu, dan pasukan Persia dikalahkan Romawi di Nineveh, sebagaimana diceritakan Warren Treadgold dalam A History of the Byzantine State and Society (Standford University Press, 1997).

Bahkan lokasi kekalahanyapun disebutkan Al Qur'an dengan ungkapan di negri terdekat (Adnal Ardhi). Nineveh sebagaimana disebutkan Warren Treadgold adalah kota tua di dekat Mosul di Timur Sungai Tigris (Irak) yang menjadi tetangga Saudi Arabia.

Kisah terkait dengan Bizantium berikutnya adalah ketika Heraklius sang penguasa yang berkedudukan di Konstantinopel memperoleh kembali seluruh wilayah yang diduduki, kemudian ia memgkonsolidasi kekuatan politiknya kembali sehingga lebih kuat dari sebelumnya.

Rasulullah yang memimpin negara kota Madinah mengiriminya surat pada tahun ke-7 H (629 M), yang isinya mengajaknya ke pangkuan Islam. Heraklius tidak merespon surat Nabi.

Tidak banyak dikisahkan bagaimana reaksi Nabi, sampai kemudian muncullah pernyataannya: "Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan" (Hadis).

Terbukti kemudian, di era khalifah ke-2: Umar bin Khattab, wilayah Syam (Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon) yang sebelumnya merupakan wilayah maju dan makmur Bizantium sudah jatuh ke pangkuan ummat Islam.

Anatolia (kini merupakan bagian dari wilayah Turki di sisi Asia) yang pada waktu itu merupakan sisa wilayah Bizantium di sisi Asia kemudian memyusul jatuh ke pangkuan Islam pada tahun 1084, di bawah kekuasaan Turki Seljuk,  yang kemudian menjadikan Konya sebagai ibukotanya.

Pada tahun 1453 M, baru Konstantinopel yang menjadi ibukota kekaisaran Bizantium jatuh ke pangkuan Islam, dibawah Turki Usmani yang dipimpin oleh Sulthan Muhammad yang kemudian mendapatkan julukan Al Fatih (sang penakluk).

Para ilmuwan muslim pada umumnya menyimpulkan, bahwa Muhammad Al Fatih dan pasukannya sebagai pemimpin yang diramalkan Rasulullah dalam hadits sahih yang disebut di atas.

Merujuk pada rangkaian peristiwa ini, maka secara spiritual sejatinya banyak peristiwa politik yang dapat dilihat dengan pendekatan seperti ini. Hanya saja tidak semua pesan-pesan Al Qur'an diungkapkan dengan cara yang tegas dan lugas, bahkan sebagian besar samar-samar sehingga memunculkan multi tafsir.

Selain itu pesan-pesan politik dalam Al Qur'an maupun Hadits, tidak semuanya dalam bentuk ramalan, akan tetapi lebih banyak dalam bentuk pesan-pesan moral dan nilai-nilai luhur yang bersifat universal. Ada juga yang berbentuk kisah atau metafora, janji dan ancaman.

Dengan demikian ia menjadi milik seluruh ummat manusia apapun agama maupun kebangsaannya. Yang pasti, ia menjanjikan kebaikan bagi siapa saja yang melaksanakannya, sekaligus keburukan bagi siapa saja yang menentangnya.

Bagi ummat Islam wilayah ini termasuk wilayah ibadah ghairu mahdzah. Wallahua'lam.

Kolom Komentar


Video

Jasad ABK WNI Ditemukan di Frezeer Kapal China

Jumat, 10 Juli 2020
Video

Waspada!! Gunung Merapi Menggelembung

Sabtu, 11 Juli 2020

Artikel Lainnya

Makna Politis Perubahan Status Hagia Sophia Dari Museum Menjadi Masjid
Muhammad Najib

Makna Politis Perubahan Stat..

12 Juli 2020 20:38
Masjid Sebagai Pusat Peradaban Islam
Muhammad Najib

Masjid Sebagai Pusat Peradab..

10 Juli 2020 09:41
Ideologi Pancasila Sudah Final
Muhammad Najib

Ideologi Pancasila Sudah Fin..

06 Juli 2020 13:59
Membongkar Borok Gedung Putih
Muhammad Najib

Membongkar Borok Gedung Puti..

02 Juli 2020 10:32
Akhirnya Israel Gentar Untuk Meneruskan Rencananya Menganeksasi Tepi Barat Milik Palestina
Muhammad Najib

Akhirnya Israel Gentar Untuk..

01 Juli 2020 13:59
Mengenal Erthugrul, Peletak Fondasi Dinasti Turki Usmani
Muhammad Najib

Mengenal Erthugrul, Peletak ..

30 Juni 2020 17:38
Tanda-tanda Akhir Kedigdayaan Amerika
Muhammad Najib

Tanda-tanda Akhir Kedigdayaa..

29 Juni 2020 10:59
Akankah Libia Bernasib Seperti Yaman?
Muhammad Najib

Akankah Libia Bernasib Seper..

24 Juni 2020 14:20