Dimensy.id Mobile
Dimensy.id
Apollo Solar Panel

Selamat Ulang Tahun Nona Sayang

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/ilham-bintang-5'>ILHAM BINTANG</a>
OLEH: ILHAM BINTANG
  • Minggu, 05 April 2020, 12:25 WIB
Selamat Ulang Tahun Nona Sayang
keluarga Ilham Bintang dan Nona (kedua dari kiri)/Ist
HARI ini, Minggu (5/4) Suri Adlina, puteri bungsu dan satu-satunya perempuan dari  empat anak kami, berulang tahun. Tapi tidak ada peluk cium dengan Suri kali ini.

Ia tinggal di Melbourne, Australia. Jarak Jakarta-Melbourne lebih 4000 km. Dengan penerbangan memakan waktu 7 jam.

Tapi bukan itu semata soalnya. Sejak 15 Maret Melbourne lockdown.  Tidak menerima pendatang dari luar. Warganya pun sama. Tidak boleh keluar wilayah.

Australia serius dan ketat mengawasi karantina penduduk. Data per 5 April di Australia, ada  5550 kasus positif; 701 jiwa yang sembuh; dan 30 yang meninggal.

Sebagai perbandingan di Indonesia per tanggal 4 April data positif yang terjangkit virus sebanyak 2092; pasien yang sembuh 150; sedangkan yang meninggal 191.

Kami mencemaskan keadaan dia di Australia. Tapi dia lebih cemas lagi pada keadaan kami di Jakarta. Memang sampai sekarang belum ada putusan kongkrit dari pemerintah pusat bagaimana menghentikan mata rantai penyebaran wabah sekaligus untuk melindungi seluruh jiwa raga warganya.

Yang pasti, sudah berulangkali dinyatakan Presiden Jokowi, pemerintah Indonesia tidak akan menerapkan lockdown.

Inspirasi Lebah

Nona, begitu panggilang akrab Suri Adlina. Sehari hari  kini ia menjalani karantina. Ia mengurung diri di kamar apartemennya. Mengikuti ketentuan pemerintah. Kerja paruh waktunya di pertokoan David Jones, sudah stop dua minggu lalu. Kuliah pun dilakukan secara online.

Obyek penelitiannya species lebah. Species lebah ternyata punya 1.700 jenis. Ia harus memilih satu jenis lebah sebagai sumber inspirasi desain bangunan untuk tugas akhirnya. Berat. Nona pun sempat mengakui itu kepada ibunya.

Dia tak menyangka seberat itu konsekwensi pilihannya. Tapi dia sudah memilih. Dia punya dosen pembimbing yang baik. Ibunya pun tak habis-habis memanjatkan doa.  Baru kemarin dia menelpon mengaku lega. Dosen memuji rencana penelitiannya.

Nona sering mengontak kami lewat telepon atau video call. Namun, lebih  banyak mengusut adakah kami ke luar rumah. Untuk memastikan: kami harus kelihatan berdua di layar handphone. Baru dia lega. Dia mencemaskan kami. Padahal, jauh lebih besar kecemasan kami terhadap dia di negeri orang.

Program Internasional

Jarak waktu Melbourne lebih dulu 4 jam dibandingkan Jakarta. Maka setelah salat subuh, kami menyampaikan ucapan selamat ke dia. Di sana sudah pukul 9 pagi. Mungkin sudah sejak bangun pagi, dia sudah menunggu ucapan selamat dari kami via video call.

Nona, satu-satunya anak kami yang berkuliah di luar negeri. Sejak program strata satu di Perth, di Australia Barat, hingga lanjut program strata dua di Melbourne Victoria, Australia, dua tahun lalu.

Tahun ini ia akan merampungkan kuliahnya. Menurut jadwal, Juli ia akan maju mempertahankan disertasinya. Dan, kalau lulus akan mengikuti wisuda universitas pada bulan Desember. Mudah-mudahan saja jadwal itu tidak berubah karena pendemic corona melanda dunia.

Awalnya Nona mengambil program internasional jurusan arsitektur di Fakultas Tehnik Universitas Indonesia. Separuh masa kuliah diikuti di Curtin University, Perth. Sedangkan untuk S2 mengambil program Master of Design Innovation and Technology di Royal Melbourne Institute Tehnonolgy (RMIT).

Sejak studi di Australia rutin pertiga bulan kami mengunjunginya.  Terakhir kami ke Melborne Januari lalu. Sudah tiga bulan berlalu. April ini mestinya jadwal berangkat. Tiket sudah dipesan. Namun,  tampaknya sulit direalisasi. Wabah virus corona yang menjadi halangan. Terjadi di seluruh dunia.

Sudah dua kali saya issued tiket Garuda. Untung pihak Garuda mengerti membebaskan penumpang menjadwal ulang keberangkatan. Pembatalan keberangkatan sebelumnya ke Saudi untuk Umrah. Entah  sampai kapan. Keberangkatan ke Saudi mestinya 27 Februari. Pas hari keberangkatan, Saudi mengumumkan larangan bagi jamaah untuk berumrah.

Hari ini, saya mengenang hari kelahiran Nona. Pas orang tua kami, ayah dan ibu -- keduanya almarhum -- memperingati 50 tahun usia perkawinannya. Nona menjadi kado kami yang indah.

Sudah pastilah Nona menjadi kado teramat istimewa pula buat kami. Setelah kelahiran tiga anak, laki-laki semua, kami  sangat mendambakan  anak perempuan. Ibunya berasal dari Minang. Selain “tuntutan” kultur, dia sendiri bersaudara lebih banyak perempuan. Enam perempuan dan hanya dua laki-laki.

Dengan abangnya yang nomer tiga, usia Nona terpaut tujuh tahun.

Rupanya, menginginkan anak laki-laki atau perempuan ada panduannya secara medis -- meski itu tetap saja berhasil atas perkenan Tuhan, Allah SWT. Kami dibimbing dokter kandungan senior Dr. Ratzarwin. Panduannya sejak perencanaan dan di masa-masa kehamilan. Saya masih ingat, kami harus banyak menkonsumsi makanan yang amis-amis, ikan-ikanan antara lain. Ada banyak lagi panduannya. Kami mengikuti dengan tekun. Dan, Alhamdulillah Tuhan mengabulkan.

Saat persalinan, dokter Ratzarwin  girang mengabarkan bahwa bayi yang lahir adalah perempuan. Dia menyebut secara spesifik “Nona”. Sejak itulah panggilan Nona melekat sebagai panggilan akrab untuk puteri bungsu kami.

Tidak Berkenan

Sewaktu Nona memutuskan akan melanjutkan sekolah di luar negeri, saya sebenarnya tidak begitu berkenan. Saya belum bisa menerima  berpisah dengan anak. Apalagi sekolah di negeri orang. Ini anak perempuan pula, satu-satunya. Abangnya dulu waktu kuliah di ITB Bandung, berat rasanya melepas dia.

Saya sempat menangis sepulang mengantarnya ke rumah kos di Bandung. Begitu juga dengan putera kami yang nomer dua, yang sekarang menjadi dokter spesialis kandungan. Waktu mau kos di dekat kampusnya Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,  saya larang.

Padahal, jaraknya tidak seberapa dengan kediaman kami. Si sulung yang kuliah di kampus Universitas Pelita Harapan juga saya larang kos dekat kampusnya. Apalagi, waktu meneruskan  program S2 yang kampusnya di Slipi, sudah dekat rumah. Saya sangat mendambakan dekat dengan anak-anak semua, satu rumah.

Itu menjadi semacam penebusan “utang” saat saya sering meninggalkan mereka bertugas sebagai wartawan, lebih duapuluh dua tahun waktu bekerja di Harian Angkatan Bersenjata.

Setelah kantor surat kabar itu tutup, saya pun membangun kantor depan rumah setelah memutuskan untuk mendirikan perusahaan media sendiri. Setiap siang, saya bisa bertemu anak-anak di meja makan setelah mereka pulang sekolah semua.

Itu bukan hal istimewa sebenarnya. Orang tua kami dan juga kekuarga mertua kami juga demikian. Anak- anak dilepas ke luar rumah baru setelah menikah.

Kalau menuruti kemauan, kami pengin lebih dari itu. Sudah menikah dan melahirkan anak pun semua anak biar tinggal satu rumah saja. Biarlah rumah kami sesak. Dalam tradisi keluarga Minang dikenal sebagai rumah gadang.

Ibunya juga sangat mendambakan itu. Dan, pernah dia coba merealisasikan. Dia bangun rumah di atas lahan kosong kami dengan kamar yang banyak untuk menampung semua anak dan cucu. Tapi impian tinggallah impian. Hanya sekali waktu saya ingat itu terjadi. Pada  bulan Ramadhan. Itupun karena kebetulan pembantu- pembantu mereka mudik dan anaknya masih kecil-kecil.

Sebentar saja mereka bisa beradaptasi dengan keadaan itu dan mengatasinya secara mandiri. Sekali itu saja terjadi. Yang masih bisa dipertahankan, mereka semua berumah satu komplek perumahan dengan kami. Bertetangga rumah. Ada juga yang bersebelahan. Generasi anak- anak berbeda dengan generasi orang tuanya.

Mereka bebas menentukan pilihannya sendiri. Kami sadar dunia memang sudah berubah. Sebagai orang tua, kami harus bisa menerima keadaan itu. Ternyata, tidak selalu pilihan mereka salah. Seperti sekarang. Saat wabah Covid-19 merebak pilihan pisah rumah itu ternyata benar. Ada hikmahnya.

Protokol kesehatan mengharuskan orang menjaga jarak satu sama lain. Bayangkan betapa menghatirkannya jika kami semua satu rumah.

Anak dan menantu yang sama-sama dokter membuat protokol ketat buat keluarga. Protokol itulah yang kami patuhi sejak tiga minggu lalu. Kami mengurung keluarga masing-masing dalam rumah. Kami sudah tiga minggu  tidak bertemu fisik dengan delapan cucu. Kami hanya dikirimi foto atau bertatap muka lewat video call.

Arya Gunawan,  sahabat kami yang tinggal di Wina Austria menceritakan seperti itu protokol di sana. Tiap rumah hanya boleh dihuni 5 orang selama masa lockdown.

Kalau buka sejarah, pada zaman Nabi juga pernah terjadi wabah seperti ini. Waktu itu Thoun terjadi di Yaman. Warga disuruh berpencaran naik ke gunung untuk menyelamatkan diri dari keganasan wabah yang mematikan itu.

Ketika memutuskan sekolah di LN dengan Nona kami lama berdiskusi. Saya sedih justru karena semua argumentasinya benar.

“Ini untuk masa depan Nona. Ke depan dunia makin sulit. Nona harus  sama pintarnya dengan Abang-Abang Nona,” ucapnya.

Ya, kami kalah argumentasi. Kami mengalah. Pointnya dia ingin menuntut ilmu setinggi lagit. Iya, di masa sekarang, di masa pandemik corona, keyakinan kuat mencari ilmu itu mendapatkan pembenaran.

Pengetahuan yang dicapai selama ini oleh bangsa-bangsa maju sekalipun, ternyata belum seberapa. Satu virus corona saja sudah bikin kalang kabut seluruh dunia. Para ahli kembali membuka diktat, para peneliti kembali mengurung diri di lab-lab untuk secepatnya menemukan obat anti virus corona itu.

Saya teringat pesan sebuah puisi yang ditulis entah  oleh siapa tetapi viral di media sosial.

“Pesan Bumi”

Kita tertidur di satu dunia, dan terbangun di dunia lain.Tiba-tiba Disney kehilangan keajaiban. Paris tidak lagi romantis. New York tak terlihat gagah. Tembok Cina bukan lagi benteng.

Dan Mekah kosong. Peluk dan cium berubah menjadi senjata mematikan.Tidak mengunjungi orangtua dan sahabat menjadi bukti cinta. Tiba-tiba  kau sadar bahwa kekuasaan, kecantikan dan uang tidak lagi berharga,dan tak mampu membuatmu mendapatkan oksigen yang sangat kau butuhkan.

Bumi melanjutkan hidupnya dan ia indah. Ia hanya mengurung manusia di dalam kandang.

Sahabat, kurasa bumi sedang mengirim pesan ini kepada kita semua: Kalian tidak penting. Udara, tanah, air, dan langit, tanpa kehadiran kalian, baik-baik saja. Bila kalian kembali nanti, ingatlah bahwa kalian tamuku. Bukan tuanku.

Pesan ini bagus kita renungkan bersama. rmol news logo article

Penulis adalah wartawan senior.

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA