Farah.ID
Farah.ID

Jasa Bani Abbasiyah Terhadap Dunia Islam

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/dr-muhammad-najib-5'>DR. MUHAMMAD NAJIB</a>
OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB
  • Rabu, 01 April 2020, 10:24 WIB
Jasa Bani Abbasiyah Terhadap Dunia Islam
Dinasti Abbasiyah (ilustrasi)/Net
DAULAH Bani Abbasiyah didirikan oleh Assafah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, sekaligus menjadi khalifah pertamanya pada 750 M/132 H. Abbas bin Abdul Muthalib merupakan abang dari Abdullah yang menjadi ayah Nabi. Dengan demikian nama Abbasiah dinisbatkan dari nama paman Nabi ini.

Dinasti Bani Abbasiah berdiri setelah berhasil meruntuhkan dinasti Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus (Suriah). Assafah memulai gerakan perlawanannya dari Kota Khurasan (Iran) yang didukung oleh kelompok Syi'ah.

Secara politik semangat Bani Abbasiyah melawan Bani Umayyah, tidak bisa dilepaskan dari persaingan antara dua klan besar yang menjadi bagian dari suku Quraish. Begitu juga dukungan politik kelompok Syi'ah yang menjadi pendukung Ali, Hassan, Husein, dan anak cucunya, yang merupakan bagian dari Bani Hasyim yang melahirkan Abbas, disamping penindasan yang dialami anak-cucu Ali bin Thalib yang di bawah dinasti Bani Umayyah.

Kerasnya persaingan diantara keduanya, mengakibatkan seluruh keluarga Bani Umayyah dibantai oleh Bani Abbasiyah yang berhasil mengambilalih kekuasaan. Hanya Abdurahman yang waktu pembantaian terjadi luput, kemudian melarikan diri ke Andalusia. Walaupun terus dikejar, Abdurahman berhasil menyelamatkan diri, bahkan menjadi penguasa di Andalusia yang kemudian mendapat julukan Addakhil (orang yang masuk ke Andalusia), sehingga namanya menjadi Abdurahman Addakhil.

Tidak mudah bagi Abdurahman Addakhil seorang diri menyelamatkan diri dari kepungan kaki tangan Abbasiyah. Lebih tidak mudah lagi, seorang diri merebut kekuasaan dari tangan para penguasa setempat yang menjadi independen, sejak dinasti Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus runtuh.

Kekhalifahan Abbasiyah yang kemudian menempatkan pusat pemerintahannya di Bagdad, berkembang pesat dan berhasil menjadikan dunia Islam sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia. Sehingga para ilmuwan dan para pelajar dari seluruh dunia memenuhi Bagdad.

Diantara khalifah Bani Abbasiyah yang terkenal antara lain: Harun Al Rasyid yang merupakan Khalifah ke-5 dari dinasti Abbasiyah. Disamping tangguh sebagai panglima perang, ia juga dikenal sebagai pemimpin yang sangat arif dan bijaksana. Harun juga dikenal sebagai orang yang cinta ilmu dan sangat menyayangi rakyatnya.

Di bawah pemerintahan Harun Al Rasyid, Bani Abbasiyah mengalami puncak kemasyhurannya. Disamping berbagai cabang ilmu pengetahuan berkembang pesat, secara ekonomi juga mencapai kemakmurannya.

Pada saat inilah muncul kisah-kisah seperti Kais dan Laila, Syahrajat, Sinbab, Aladin, Ali Baba dan seterusnya sebagai bagian dari karya sastra dengan kategori dongeng, legenda, fabel, dan roman yang terinspirasi oleh gemerlapnya kehidupan Bagdad, dengan istannaya yang megah, mewah dan indah, kemudian dibumbui oleh imajinasi penulisnya, yang dikenal luas dengan kumpulan Kisah 1001 Malam.

Seni musik, seni kaligrafi, dan seni arsitektur bangunan juga berkembang pesat. Sehingga Bagdad menjadi metropolitan yang dikagumi oleh bangsa-bangsa lain di seluruh dunia. Pada era ini hidup seorang pujangga cerdas dan jenaka bernama Abu Nawas atau Abu Nuwas yang menjadi pujangga istana, yang sampai sekarang kisah dan kelucuannya masih sering dikutip untuk sekedar membangun suasana ceria.

Kehebatan Harun Al Rasyid (berkuasa 786-809 M), dilanjutkan oleh putranya yang bernama Al Makmun (berkuasa 813-833 M). Sebagai pencinta ilmu, Al Makmun membangun Baitul Hikmah sebagai pusat ilmu pengetahuan, dengan proyek utamanya menterjemahkan berbagai buku penting dalam segala bidang, seperti filsafat, sastra, sejarah, termasuk sain dan teknologi, baik yang berbahasa Yunani, India, Persia dan bahasa lain, kedalam Bahasa Arab.

Hal inilah yang menyebabkan bangsa Arab tidak hanya berhasil mewarisi berbagai cabang ilmu yang berasal dari berbagai penjuru dunia, dan diwarisi oleh berbagai generasi pencinta ilmu, bahkan kemudian mengembangkannya lebih jauh lagi sehingga melahirkan peradaban manusia yang banyak dicatat oleh para ahli sejarah dengan tinta emas.

Selama tiga abad berkuasa, sumbangan Bani Abbasiah terhadap dunia Islam tidak kecil. Akan tetapi, pelan-pelan dinasti ini meredup, diakibatkan percekcokan internal akibat perebutan kekuasaan diantara keluarga istana yang tidak pernah berhenti.

Pada saat dinasti ini berada dalam puncak kerapuhannya, pada (1258 M) dari arah Timur datang tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulaghu Khan yang kemudian menghancur-leburkan Kota Bagdad, membantai penghuninya dengan sadis, termasuk keluarga dan Khalifah Al Mustasim Billah sebagai khalifah terakhir dinasti Abbasiyah, dengan cara yang sulit diceritakan mengingat kekejian cara yang dipilih untuk membinasakannya.

Bengisnya tentara Mongol ini diceritakan sampai membuat air sungai Tigris yang mengalir di sisi Kota Bagdad berubah warnanya menjadi merah bercampur hitam, karena dipenuhi darah penduduk yang dibantai dan tinta dari banyaknya buku yang dibuang ke sungai.

Sampai sekarang kisah kegemilangan tentang Abbasiyah diceritakan sebagai bagian dari yang membanggakan umat Islam, sekaligus kisah pilu mendalam yang susah dilupakan. Sebuah pelajaran penting bagi kita, khususnya para pemimpin umat dalam menghadapi kehidupan politik. rmol news logo article

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

ARTIKEL LAINNYA