Dangerous Move

Selasa, 26 Maret 2019, 12:10 WIB | Oleh: Muhammad Takdir

Donald Trunp/Net

PRESIDEN AS, Donald Trump tidak hentinya membuat manuver berbahaya (dangerous move).

Paling akhir  -Senin ini (25/3), Trump bersama PM Israel Benyamin Netanyahu telah menandatangani proklamasi pengakuan AS terhadap daratan tinggi Golan. Seminggu sebelumnya, lewat twitter Trump menyebut blatant bahwa saatnya Washington mengakui kedaulatan Israel atas daratan tinggi Golan.

Kata Trump, setelah 52 tahun, pengakuan itu penting dan strategis bagi kedudukan State of Israel maupun stabilitas kawasan.

Jelas ini pernyataan paling ngawur.

Pertama; pengakuan AS terhadap kedaulatan Israel atas wilayah daratan tinggi Golan yang secara geografis merupakan wilayah sah Suriah bertentangan dengan Resolusi 497 DK-PBB yang telah menegaskan aneksasi paksa Israel terhadap pendudukan wilayah itu sebagai sesuatu yang bersifat “null and void”.

Kedua; manuver itu telah mengikis confidence internasional terhadap komitmen dan keseriusan AS dalam memperjuangkan gagasan two States solution.

Langkah Trump sama sekali tidak menjamin keamanan Israel dan akan semakin menenggelamkan seruan internasional untuk membuka daerah West Bank dan Jalur Gaza. Kedua wilayah Palestina itu akan terus menjadi open air prisons.

Pendek kata, Trump telah memporak-porandakan konstruksi perubahan yang memang sejak awal sulit diharapkan dapat membawa angin positif perdamaian di Timur Tengah.

Satu-satunya orang yang menikmati keuntungan dari manuver penuh resiko Donal Trump adalah PM Israel sendiri. Netanyahu bisa sedikit rileks dengan langkah itu dan membuat konstituen pendukungnya melupakan sementara defisit kepercayaan publik Israel terhadap Netahyahu.

Netanyahu saat ini harus menghadapi tuduhan kriminal korupsi dan menjalani investigasi Jaksa Agungnya sendiri, Avichai Mendeblit, yang bisa membuatnya terjungkal seperti pemimpin Israel lainnya, PM Ehud Olmert atau Presiden Moshe Katsav.

Kapitalisasi pengakuan itu kemungkinan sangat menentukan masa depan Netanyahu dalam pemilu setempat yang akan digelar 9 April mendatang.

Pengakuan de facto dan de jure yang diberikan Washington kepada Tel Aviv menambah set of policies AS yang memang cenderung menguntungkan Israel secara diskriminatif dibandingkan dengan negara-negara tetangganya di Timur Tengah sejak Donald Trump mengambil alih kepemimpinan Demokrat di Washington tahun 2016.

Trump suka dibandingkan dengan Kaisar Persia, Cyrus yang dianggap sebagai heroic defender kaum Yahudi.

Manuvernya untuk menggiring AS keluar dari kesepakatan perjanjian nuclear deal dengan Iran serta pengenaan kembali sanksi terhadap Teheran, maupun relokasi Kedutaan Besar AS ke Jerusalem sebagai simbol pengakuan sebagai ibukota negara zionis itu, menambah amunisi membaranya situasi kritis di Timur Tengah.

Negara-negara di kawasan yang memiliki konflik langsung dengan Israel tidak akan lagi melihat Washington sebagai honest brooker. Meskipun sebenarnya, secara tradisional sejak dahulu -terutama sejak Perjanjian Camp David I Israel-Mesir, sebagian besar negara di kawasan itu sulit menempatkan Washington benar-benar dalam posisi mediator yang dapat dipercaya.

Implikasi pengakuan Washington terhadap pendudukan Tel Aviv di dataran tinggi Golan membuka konfrontasi dengan Suriah (dengan back up Rusia) menjadi lebih probable. Manuver itu sangat potensial memicu repetisi perang enam hari 1967 dengan Arab, khususnya Suriah yang kini nampak lebih confident menerima dukungan Rusia menghadapi krisis stabilitas di negara tersebut.

Dalam konteks proxy yang lebih luas, manuver Trump jelas akan mempersulit posisi negara itu maupun Uni Eropa secara umum dalam melawan aneksasi Rusia terhadap Krimea, Ukraina. Dengan melihat apa yang dilakukan AS di Golan, maka persepsi pendudukan asing yang sama di Krimea akan mereduksi ilegalitas unilateralisme Moskow atas wilayah yang sebelumnya menjadi bagian Ukraina.

Sebaliknya, dari sisi reperkusi konflik Israel dengan Palestina, manuver pengakuan AS terhadap Golan, juga akan dipahami sebagai preseden yang kemungkinan akan berulang dengan pemberian pengakuan Washington terhadap future annexation Israel atas sisa wilayah pendudukan di West Bank. Kompleksitas ini yang dikhawatirkan membuat pendulum konflik di Timur Tengah menggiring kawasan itu ke zona zero sum war.

Damaskus sendiri bukan lawan yang mudah bagi Tel Aviv dan AS. Bombardemen Barat bersama para sekutunya selama hampir delapan tahun menyusul krisis Bashar Al-asad pasca Arab spring 2011. Suriah menganggap langkah pengakuan AS sebagai flagrant aggression yang menegasi apapun langkah masyarakat internasional untuk merekonstruksi rasio CBM yang terlanjur berada pada titik paling rendah di kawasan.

Kita semua menunggu dengan was-was perkembangan lanjutan dari manuver Trump ini. Namun satu hal yang dapat dipastikan, Israel akan terus berjalan sendiri menekurinya prophecy dengan mengabaikan normalitas lingkungan sekitarnya di bawah dukungan absolut Donald Trump. Sebaliknya, Trump akan terus menjadikan outlet Timur Tengah sebagai bagian rutin objek twitter kebijakan provokatifnya yang ramifikasinya berada di luar kontrol maupun prediksibilitas komunitas global. Ini yang paling menakutkan bagi kita!  


Penulis merupakan Kolomnis Politik dan Keamanan Internasional

Kolom Komentar