Yayan Sopyani, Memilih PDIP Karena Keyakinan Dan Ideologi

Rabu, 27 Februari 2019, 07:56 WIB | Laporan: Widian Vebriyanto

Yayan Sopyani Al Hadi bersama petani/Dok

Politik merupakan salah satu jalan bakti dan jalur pengabdian kepada Republik. Politik juga harus senantiasa dihadirkan sebagai cara membangun peradaban dan membela kemanusiaan.

Namun demikian, politik juga akan merusak dan menjadi noda yang sangat kotor bila dalam diri seorang politisi tumbuh nafsu keserakahan, angkara murka atau bahkan ingin merusak peradaban dan memecah-belah bangsa.

Demikian keyakinan Yayan Sopyani Al Hadi, wartawan dan mantan aktivis yang kini terjun ke gelanggang politik.

"Karena itu, dalam jiwa setiap politisi harus tumbuh semangat seorang negarawan yang berkobar-kobar. Karena sejatinya politik itu menyatukan, bukan memecah-belah dan mengadu domba," tegas Yayan di kediamannya di kawasan Sawangan, Depok, kepada Kantor Berita Politik RMOL.

Yayan pun memilih PDI Perjuangan sebagai jalan pengabdian itu. Bukan karena PDI Perjuangan sedang berada dalam puncak kekuasaan, melainkan karena keyakinan dan ideologi yang tumbuh dan hidup dalam setiap lekuk kehidupan.

Dengan latar-belakang primordial yang beragam, dari pemahaman keagamaan yang berbeda, Yayan hidup dalam lingkungan yang bermacam-macam. Lingkungan yang mengitrai adalah keluarga besar Nahdlatul Ulama, tumbuh mengakar dalam pendidikan Persatuan Islam (Persis), hingga menjadi aktivis muda Muhammadiyah.

"Pernah dalam satu sisi kehidupan saat remaja, usia-usia SMA saat nyantri, tumbuh keyakinan bahwa kelompok saya yang benar. Selain kelompok saya, pasti sesat dan menyesatkan. Paling tidak, ada pikiran dalam diri saya, bahwa mereka yang berbeda dengan kelompok saya, harus diselamatkan," kata Yayan, sambil sedikit tertawa.

Namun demikian, saat remaja itu pula, Yayan mengaku sudah membaca buku yang begitu menginspirasi. Buku itu terbitan tahun 1937, dan terdiri dari 37 halaman dalam tanpa cover. Buku tua yang ditemukan di perpustakan pesantren itu berjudul "Surat-surat Islam dari Endeh". Buku itu berisi korespondensi Bung Karno, yang sedang dibuang Belanda ke Endeh, dengan seorang pemikir muslim modern pada zaman-nya, yaitu Tuan Hassan.

"Dari buku itu saya menemukan Islam yang progresif yang merupakan gagasan-gagasan Bung Karno. Pikiran Tuan Hassan sendiri sudah saya akrabi sejak anak-anak, sejak usia SD. Dan tidak mungkin Tuan Hassan menerbitkan pikiran-pikiran Bung Karno bila ia tak menyetujuinya," tegas Yayan.

Dari sinilah, Yayan mengaku mulai menggeluti karya-karya Islam yang maju dan transformatif dari berbagai belahan dunia. Termasuk dari Indonesia sendiri. Dan gagasan itu tumbuh dengan sangat baik di lingkungan Muhammadiyah. Lingkungan Muhammadiyah ini pula yang sempat menginspirasi pikiran-pikiran keagamaan Bung Karno.

"Maka saya yakin, apa yang diperjuangkan PDI Perjuangan dalam membela wong cilik adalah sama dengan apa yang diperjuangkan ajaran Islam untuk selalu berada di tengah-tengah mereka yang papa, tepinggirkan atau rakyat kecil. Dalam bahasa agama, kita menyebutnya mustadh'afin," jelas Yayan.

Sebagai aktivis, Yayan menilai bahwa PDI Perjuangan-lah yang benar-benar mampu menjaga kebhinnekaan Indonesia. Ideologi Pancasila dalam tubuh PDI Perjuangan tumbuh mengakar dan tidak hadir karena kepentingan politik belaka.

"Saya menilai, PDI Perjuangan lah yang tegak lurus dan berdiri kokoh dalam membela keragaman itu," tegas Yayan yang maju pencalegan DPR dari Dapil Jawa Barat X yang meliputi Kuningan, Ciamis, Banjar dan Pangandaran dengan nomor urut 4 tersebut. ***

Kolom Komentar


loading