"Ayo mari kita bangun Kabupaten Soppeng. Caranya dengan kerja, kerja, dan kerja. Bangun jam lima subuh lalu kembali ke rumah jam 11 malam. Kalau perlu ibu-ibu usir suaminya jam lima subuh dan suruh kembali jam 11 malam," kata Amran saat menghadiri Kemah Bakti Pertanian di Desa Lamede, Kecamatan Marioriawa, Soppeng, Sulsel, Jumat (17/11).
Amran menceritakan pengalamannya sebagai menteri. Di mana, aktivitas kerjanya lebih dominan dibandingkan dengan waktu istirahat.
"Saya hanya tidur dua sampai empat jam setiap hari. Tetapi ada petani yang tidur 20 jam sehari sedangkan kerjanya cuma empat jam. Kita kira jadi tidak itu lahan," katanya bertanya pada petani.
Sewaktu kunjungan kerja ke Surabaya, Amran mengaku melihat pekerja asing yang mendapat bayaran tinggi dibanding pekerja lokal.
"You tidak hargai saya, izin kamu bisa saya cabut. Bangsaku kamu gaji Rp 5 juta tetapi bangsa lain kamu gaji Rp 25 juta," cerita Amran.
Ditambahkannya, setelah bertemu dan menjalin komunikasi dengan pihak perusahaan, Amran sadar mengapa gaji tenaga asing di Indonesia lebih tinggi dibanding pekerja lokal.
"Ini orang pekerja lokal yang digaji Rp 5 juta per bulan sedangkan yang Korea digaji Rp 25 juta per bulan. Karena pekerja lokal ini kebanyakan istirahatnya dibanding pekerja asing yang sungguh-sungguh kerja. Mereka pekerja asing ini berangkat dari rumah jam lima pagi kemudian pulang jam 11 malam, sedangkan yang pekerja lokal selalu datang kerja telat kalau pulang lebih cepat. Jadi, bagaimana gaji dia lebih besar," beber Amran.
[wah]
BERITA TERKAIT: