"Itu betul-betul terus kita ikuti agar inflasi pada tahun ini juga pada angka-angka di sekitar tahun 2015. Ada supply yang kurang segera supply, ada distorsi pasar segera dikerjakan," kata Kepala Negara saat menyampaikan pengantar pada sidang kabinet paripurna, di Istana Negara, Jakarta, Senin (4/1).
Jokowi menyampaikan rasa syukur karena inflasi tahun ini jatuh di angka kurang lebih 3,3 persen. Kemudian pertumbuhan ekonomi kira-kira 4,7 sampai 4,8 ini kalau dibandingkan dengan negara-negara lain juga sudah sangat cukup baik karena negara-negara yang lain angkanya turun 1,5, ada yang 2, ada yang 3 minusnya dari pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya.
Kemudian yang berkaitan dengan realisasi atau serapan, menurut Jokowi, kelihatan sekali bahwa realisasi kita tidak seperti yang banyak disampaikan oleh pengamat, yang menyampaikan realisasi akan jatuh di bawah 80. "Saya kira sangat jauh dari itu. Jadi belanja negara, realisasi belanja negara berada pada posisi 91,2 persen, alhamdulilah menurut saya sangat baik atau jatuh angkanya di Rp 1.810 triliun," ungkapnya.
Kemudian di pendapatan negara itu, lanjut Jokowi, sebesar 84,7 persen atau angkanya Rp 1.491 triliun yang di dalamnya ada penerimaan pajak 83 persen dan non pajak 93,8 persen. "Ini juga sebuah angka yang sangat baik karena dengan angka-angka ini berarti defisit kita berada pada posisi 2,8 dan kita sekarang ini juga masih punya SILPA Rp 10,8 triliun, ada sisa lebih Rp 10,8 triliun," terangnya.
Dilansir dari laman
setkab.go.id, sidang kabinet paripurna di awal tahun 2016 itu diikuti oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Bidang Polhukam Luhut B. Pandjaitan, Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menko Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli, Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Kepala Staf Presiden Teten Masduki, dan jajaran menteri Kabinet Kerja.
[rus]
BERITA TERKAIT: