Mbak Rachma sapaan akrab pendiri Yayasan Pendidikan Soekarno ini mengatakan, menyimak pemberitaan
Harian Kompas 9 Desember, dengan judul "Pemimpin Baru Ditunggu", sangat relevan dengan kondisi negara sekarang, tepatnya pasca reformasi.
Ia menjelaskan, setelah perobahan UUD 1945 pasca amandemen, UUD 1945 menjadi konstitusi yang liberal kapitalistik, Indonesia pun kehilangan visi misi ideologi negara. Tidak tentu ke arah mana tujuannya, kecuali menjadi subordinat (baca membebek) kepada negara adidaya, dan kehilangan martabat bangsa karena krisis kepemimpinan nasional.
"Jadi solusinya diperlukan pemimpin yang tahu betul arah tujuan "di seberang jembatan emas proklamasi Indonesia merdeka"," sebut Mbak Rachma kepada redaksi, Rabu (9/12).
Menurutnya, ada dua jalan, pertama, jalan sama rata dan sama rasa, kedua, jalan sama ratap dan sama tangis, seperti pemikiran Bung Karno dalam buku Indonesia Merdeka.
"Data
Kompas menunjukan bahwa 50.3 persen kekayaan Indonesia hanya dikuasai 1 persen penduduk Indonesia ,selebihnya dikuasai oleh asing. Artinya, kesenjangan makin lebar antara yang kaya dan miskin. Dan berarti rezim penguasa sekarang telah gagal membwa Indonesia adil, makmur dan sejahtera. Kata Bung Karno lagi hanya jadi kulinya bangsa asing! Apa mau diteruskan?" demikian Mbak Rachma, yang juga putri Presiden Soekarno ini.
[rus]
BERITA TERKAIT: