SALAHSATU sumber konflik ialah sikap saling mencuriÂgai satu sama lain antara sesama umat beragama. Mereka selalu berburuk sangka terhadap kelompok agama lain atau mazhab lain dari agamanya sendiri. Para penganut agama lain sering dianggap mata-maÂta Barat, provokator, selalu memancing di air keruh, dan merek-merek sinis lainnya. SekaÂlipun ada di antara mereka yang bersikap baik, tetapi belum tentu di dalam hati mereka seperti apa yang ditampilkan. Pokoknya mereka selaÂlu curiga terhadap orang lain dengan berbagai macam alasan. Kelompok mayoritas khawatir akan berkurang jumlah penganut agamanya, sementara kelompok lain khawatir akan ditelan oleh kelompok mayoritas.
Di dalam membaca kitab suci masing-masÂing selalu ada bayangan kecurigaan terhadap kelompok agama lain sehingga pemahamanaÂya cenderung bias. Mereka seringkali memaÂhami ayat-ayat tertentu secara sangat tekstual, melepaskannya dari sabab nuzul, dan mungÂkin mereka memahaminya melalui bahasa terjemahan yang kurang pas. Salahsatu conÂtohayat yang yang sering digunakan sebagai dasar ialah: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "SesÂungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengiÂkuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menÂjadi pelindung dan penolong bagimu. (Q.S. al- Baqarah [2]: 120).
Ayat ini menggunakan kata: Hatta tattabi'a millatahum yang diartikan dengan "hingga kamu mengikuti agama mereka". Padahal ayat terseÂbut tidak menggunakan kata: Hatta tattabi’a diÂnatahum, kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia artinya sama. Dalam semantik baÂhasa Arab, kata din dan millah rasa bahasanya berbeda. Kata din berarti agama dalam arti subÂstansi atau inti ajaran, berisi ajaran dasar berÂsifat universal, dan inti ajaran tersebut ditemuÂkan juga di dalam agama-agama lain, seperti menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, menÂsuppor peningkatan martabat kemanusiaan, menyerukan untuk meninggalkan hal-hal yang destruktif seperti perbuatan kriminal. SedangÂkan kata millah lebih tepat disebut dengan traÂdisi keagamaan, yaitu aspek nilai-nilai lokal-kultural ikut serta "membungkus" ajaran agama itu. Dengan kata lain, kristalisasinilai-nilai subÂyektif masyarakat lokal ikut menampakkan waÂjah agama itu.
Demikian pula kelompok agama lain, tentu juga ada yang membaca kitab sucinya dengan sikap skeptis dan penuh kekhawatiran, sehingga ayat-ayat yang berbicara tentang agama lain diÂfahami sebagai ancaman. Dalam kondisi seperti ini tentu tidak kondusif untuk melahirkan suasana keberagamaan yang damai. Kalaupun di depan umum bicara tentang toleransi dan persamaan tetapi di dalam hati mereka tetap ada kecurigaan. Pengalaman seperti ini tidak bisa diingkari dan bisa dimaklumi, mengingat sesuatu yang paling mendasar di dalam hati sertiap umat beragama adalah agama. Apalagi sejarah panjang setiap agama selalu mengalami pasang surut di dalam perkembangannya. ***
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.