Dalam sebuah wawancara dengan Majalah
Life di tahun 1952, Amin Al Husseini menjelaskan posisi politiknya di tengah pusaran gelora Perang Dunia Kedua yang silam.
Amin Al Husseini menjelaskan, dia melarikan diri dari Palestina yang ketika itu di bawah kekuasaan Inggris ke Eropa.
Ketika melarikan diri ke Eropa, dia bukan lagi pemimpin umat Islam di Palestina. Jabatan Mufti Dewan Tertinggi Muslim dia duduki antara 1922 sampai 1937.
Menurut Amin Al Husseini dalam wawancara itu, dia melarikan diri dari Palestina karena otoritas Inggris dan Prancis ingin menangkap dirinya. Dia terpaksa ke Eropa karena tak mungkin baginya bersembunyi di Irak, Iran atau Turki yang juga dikuasa Inggris.
"Saya harus ke Eropa. Negara mana di Eropa yang bisa saya datangi? Inggris? Prancis? Satu-satunya tempat adalah Jerman," ujarnya.
Setelah sampai di Jerman, menurut laporan National Archieves, seperti dikutip dari
CNN, Amin Al Husseini muncul dalam berbagai program propaganda Nazi. Dia juga merekrut pemuda-pemuda Muslim Kroasia untuk bergabung dengan tentara Hitler.
Setelah Perang Dunia Kedua berakhir, Amin Al Husseini pergi ke Swiss, Prancis, lalu Suriah dan akhirnya berhenti di Lebanon.
Dalam wawancara dengan
Life itu, Amin Al Husseini mengatakan dia dan sahabat-sahabatnya sesama umat Muslim ketika itu sama sekali tidak pernah punya keinginan untuk memusnahkan Yahudi.
"Pemusnahan Yahudi bukan program kami. Kami sama sekali tidak punya pikiran untuk menghilangkan mereka. Orang Yahudi hidup bersama kami selama 13 abad dan kami melindungi mereka," demikian Amin Al Husseini.
Pernyataan Amin Al Husseini ini kembali diangkat ke permukaan menyusul tudingan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mengatakan bahwa pembantaian orang-orang Yahudi di masa Perang Dunia Kedua adalah ide dari Amin Al Husseini, bukan ide Adolf Hitler.
Pernyataan Netanyahu ini telah dikecam sejumlah tokoh dan dianggap hanya mempertajam persoalan di Palestina.
[dem]
BERITA TERKAIT: