Paket-pekat tersebut 'digelontorkan' dengan harapan untuk menggairahkan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, termasuk menguatkan posisi rupiah terhadap dolar AS.
Banyak pihak berharap, paket ekonomi III harus berbeda dari paket ekonomi I dan II yang belum terlihat hasilnya. Paket ekonomi III harus menyentuh sektor riil.
Presiden Konfedrasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan, sejak enam bulan yang lalu KSPI dan buruh Indonesia tetap konsisten menuntut pemerintah untuk menerbitkan paket kebijakan ekonomi kepada sektor riil.
Seperti menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM), menurunkan harga barang khususnya harga beras dan sembako, menurunkan harga listrik industri dan rumah tangga, menurunkan biaya logistik, dan menurunkan harga elpiji 3 kg.
Selain itu, lanjut Said Iqbal, KSPI dan buruh juga mendesak pemerintah untuk menghapus retribusi yang memberatkan industri, mengkikis biaya-biaya birokrasi yang mahal, menurunkan biaya pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), memberikan tax holiday dalam jangka pendek, memberi insentif pengusaha yang melaksanakan bahan bakunya 'local content' di atas 60 persen, dan menaikan upah buruh 2016 sebesar 22 persen.
"Kebijakan-kebijakan ekonomi ini yang ditunggu di jilid III," demikian Said Iqbal, Minggu (4/10).
[rus]
BERITA TERKAIT: