Rizal Ramli mencontohkan dua negara Asia Timur, Jepang dan Republik Rakyat China, yang sengaja membuat mata uang mereka lemah terhadap mata uang dolar AS dan mata uang lain yang mendominasi perekonomian global. Maksud dari strategi ini adalah untuk mendorong kebangkitan industri dalam negeri.
Namun sebutnya dalam perbincangan dengan redaksi beberapa saat lalu, nilai tukar rupiah yang melemah tidak serta merta bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan daya saing produk nasional baik di dalam negeri maupun di pasar internasional.
"Ada satu komponen lain yang dibutuhkan, yakni kredit ekspor untuk perusahaan-perusahaan nasional," ujar Rizal Ramli.
Pernyataan bahwa nilai tukar rupiah yang lemah bisa dimanfaatkan untuk mendorong ekspor telah beberapa kali disampaikan Rizal Ramli, termasuk sebelum dirinya diajak Presiden Joko Widodo memperkuat Kabinet Kerja bulan Agustus lalu. Terakhir hal itu disampaikannya saat membuka pameran batik di "Pasar Raya Tribute to Batik Indonesia" di Blok M, Jakarta Selatan, Sabtu siang (3/10).
Usai berbicara di Blok M, Rizal menambahkan bahwa fasilitas kredit ekspor juga perlu diberikan agar produk dan perusahaan nasional benar-benar bisa bersaing di dalam negeri maupun di pasar internasional.
"Kalau disebut hanya butuh nilai tukar rupiah yang lemah (untuk meningkatkan daya saing), nanti saya dikira malah nyukurin pelemahan nilai tukar rupiah," demikian Rizal Ramli dengan sedikit bercanda.
[dem]
BERITA TERKAIT: