Piagam penghargaan tersebut langsung diserahkan oleh pendiri MURI, Jaya Suprana, sebelum acara pemaparan kisah di balik layar Film Jenderal Soedirman di Ruang Kelirumologi, Jaya Suprana School of Performing Arts, Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (17/9).
Menurut Jaya, Sabar merupakan sosok inspiratif. Di tengah keterbatasan dia mampu menunjukkan prestasi yang orang dengan kondisi tubuh normal pun belum tentu mampu melakukannya.
"Sebenarnya beliau ini mempermalukan saya. Saya saja naik tangga satu sudah susah, dia malah naik gunung," kata Jaya berseloroh.
Bagi Sabar, penghargaan ini merupakan sebuah kebanggaan. Dia pun berharap hal ini dapat memotivasi orang lain agar jangan menyerah dengan keterbatasan yang dimiliki.
"Semoga teman-teman dan semua orang tidak mudah menyerah. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin," kata Sabar yang dalam tahun ini diagendakan mendaki puncak gunung Aqonqagua, Argentina, sebagai bagian dari tujuh puncak gunung tertinggi di dunia.
Usai penyerahan piagam MURI kepada Sabar Gorky, acara pun dilanjutkan Sarasehan Kelirumologi kisah di balik layar film Jenderal Soedirman bersama Letjen (Purn) Kiki Syahnakri beserta para aktor pendukung. Menurut Kiki, tujuan difilmkannya sejarah Jenderal Soedirman agar generasi muda tidak jenuh belajar tentang perjuangan para pahlawan, khususnya Jenderal Soedirman.
"Saya kira kisah tentang Jenderal Soedirman harus diangkat ke layar film. Karena kalau kita mendengar dari guru sejarah kita ngantuk kan," ungkapnya.
Selain Kiki, hadir pula sang sutradara, Vivi Westi. Dalam kesempatan itu, Vivi mengomentari tentang suka duka film Jenderal Soedirman yang dibuatnya. "Sebelum saya buat film ini saya coba googling, banyak sekali yang mau membuat film tentang Jenderal Soedirman namun belum ada yang jadi. Saya bersyukur bisa membuatnya," kata Vivi.
[zul]
BERITA TERKAIT: