"Apapun teror yang dilancarkan mafia, kita harapkan Menteri ESDM tidak takut dan terus menjalankan semangat pemberantasan korupsi. Rakyat akan ikut mengawal," kata aktivis yang juga pengamat energi dari Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan, Surya Widiantara dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (11/9).
Surya menilai penembakan kantor Kementerian ESDM itu sebagai sebuah pesan mafia, bahkan bisa dikategorikan teror episode pertama. Mafia menginginkan Sudirman jangan terlalu ngotot menutup ruang gerak mafia melalui kebijakan menteri.
Pasalnya, menurut dia, kebijakan fundamental yang dibuat Sudirman dalam sembilan bulan terakhir ini banyak mengarah pada penutupan 'lumbung mainan' mafia migas. Misalnya, pembubaran Petral yang diikuti dengan audit investigasi, keputusan mengambil alih TPPI dan dikelola oleh Pertamina, serta pembangunan kilang minyak baik untuk pengolahan maupun penyimpanan juga dimulai.
Menurut Surya, pembenahan ini mengubah sistem yang sudah ada sejak bertahun-tahun. Di saat yang bersamaan, ada sejumlah kasus terkait energi yang masih bergulir di meja hijau.
Menteri Sudirman juga memangkas 60 persen perizinan dan memindahkan hampir seluruh perizinan ke PTSP di bawah koordinasi BKPM. Selain itu, pemangkasan subsidi BBM telah dialihkan sektor produktif seperti pembangunan infrastruktur. Pembenahan lainnya adalah memutuskan kelanjutan operasi Blok Mahakam dan menyerahkannya kepada Pertamina.
"Tentunya semua ini berimplikasi pada eliminasi ruang korupsi dalam bidang migas. Lumbung korupsi yang sudah dinikmati mafia migas, akhirnya dipreteli pemerintah. Pemberangusan lumbung mafia hanya dalam sekejap. Ini tak pernah terjadi dalam sejarah migas di Indonesia. Bagi kaum mafia keputusan-keputusan itu sungguh pahit," papar Surya.
Di internal Kementerian ESDM sendiri, lanjut Surya, Menteri Sudirman juga telah melakukan perombakan di level eselon satu hingga empat. Ada mutasi, rotasi, promosi, dan demosi pejabat.
Diketahui, penembakan kantor Kementerian ESDM mengenai kaca ruang kerja Staf Khusus Menteri ESDM, Widhyawan Prawiraatmadja, Kamis (10/9). Widhyawan tidak begitu yakin bahwa penembakan ditujukan pada dirinya. "Mungkin itu sebuah pesan terhadap pembenahan yang telah dilakukan pak menteri," kata dia.
[sam]
BERITA TERKAIT: