Shamsi Ali yang diancam tak takut. Dia malah menyebarkan pesan berisi ancaman yang dikirimkan Fadli Zon via aplikasi Whatsapp di halaman Facebook miliknya.
"Hak Pak Fadli untuk menerima atau menolak. Dan kalau pemahaman saya tentang apa yang terjadi dianggap fitnah, dan mau somasi itu juga hak Anda sebagai pejabat negara," ujarnya.
"Artinya dengan reaksi Anda yang seperti ini juga memberikan saya pemahaman lebih jauh tentang siapa dan apa anggota Dewan terhormat. Saya sekali lagi tidak punya beban, apalagi akan takut dengan ancaman itu. Toh akhirnya biar publik tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Dan mohon maaf komunikasi kita ini juga bisa terpublikasikan luas," sambung Shamsi yang sudah hampir 20 tahun tinggal di Amerika Serikat itu.
Sebelumnya, Shamsi mengatakan, dirinya dapat membedakan mana kampanye dan jumpa pers. Jumpa pers yang dilakukan Donald Trump malam itu adalah dalam rangka kampanye.
"Makanya Pak Ketua dan rombongan di baris di belakangnya bersama pendukungnya dengan slogan mendukung DT. Tidakkah Anda berselfie ria dengan salah seorang pendukungnya?" tanya Shamsi lagi.
Memang bukan mendukung. Tapi hadir dalam acara yang
setting-nya untuk kampanye (walau itu
press conference) dapat ditafsirkan sebagai dukungan oleh calon lain. Kalaupun tidak ada penafsiran seperti itu, pejabat negara hadir di acara seperti itu secara protokol tidak etis,†masih kata dia.
[dem]
BERITA TERKAIT: