Demikian disampaikan ekonom Mukhaer Pakkanna. Dalam bidang ekonomi, lanjut Mukhaer, kemerdekaan adalah bila sudah mampu mengurangi konsumsi barang-barang impor, seperti mengurangi belanja di Lottermart, Carrefour, Sevel, McD, Pizza Hut, dan retail-retail asing.
"Kemerdekaaan adalah tatkala kita lebih banyak berbelanja di pasar-pasar rakyat dan warung-warung kelontong. Tatkala kita mulai mengembangkan produksi sekecil apapun di rumah tangga kita, mengurangi berbelanja barang-barang instant, dan mengembangkan produksi rumah tangga sendiri," kata Mukhaer, yang juga Rektor STIE Ahmad Dahlan Jakarta, kepada
Kantor Berita Politik RMOL beberapa saat lalu (Senin, 17/8).
Nasionalisme dan kemerdekaan ekonomi, sambung Mukhaer, harus dimulai dari perilaku kita dalam keluarga. Di saat yang sama, kemerdekaan harus ditunjang oleh keadaban di ruang publik, bermoral dalam berlalu-lintas, bermoral di pasar, bermoral dalam perilaku, dan lainnya.
"Kemerdekaan itu tidak sekadar selebrisasi peringatan. Tidak sekadar ritual tahunan tanpa elan dan roh. Miris rasanya mengikuti selebrisasi ritual tahunan peringatan kemerdekan, yag sudah bias," demikian Mukhaerm yang juga Sekretaris Dewan Pakar Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
[ysa]
BERITA TERKAIT: