PA GMNI Mau Wujudkan Trisakti ke Dalam Politik Hukum

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Jumat, 07 Agustus 2015, 17:21 WIB
rmol news logo . Wacana Trisakti harus dikongkritkan ke dalam politik hukum yang memungkinkan lahirnya UU yang dapat menjamin terwujudnya kedaulatan politik, kemandirian ekonomi dan praktik berkepribadian di bidang kebudayaan.

‎"Tanpa politik hukum yang memungkinkan munculnya UU yang menjamin Trisakti, maka Trisakti sebagai sistem politik, sistem ekonomi dan sistem sosial budaya tidak akan terwujud di Indonesia," kata Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Alumni GMNI Soekarwo saat membuka Kongres III Persatuan Alumni GMNI, di Jakarta Internasional Expo, Kemayoran (Jumat, 7/9). 

‎Kongres III dengan tema "Jalan Trisakti Menuju Tatanan Masyarakat Pancasila" berlangsung mulai hari ini, tanggal 7 hingga 9 Agustus 2015. Presiden RI Joko Widodo, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, sejumlah menteri Kabinet Kerja hadir saat pembukaan Kongres III PA GMNI.‎ 

‎‎Menurut Soekarwo, hukum itu tentu hukum yang bersumber pada ideologi negara yakni, Pancasila, dan memiliki semangat Trisakti. Dan PA GMNI sudah lama mengumandangkan bahwa Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum (grundnorm), maka sudah waktunya mengkonkritkan nilai-nilai dan spirit Pancasila dan Trisakti ke dalam norma hukum agar apat menjadi pondasi sebuah sistem politik, ekonomi, sosial budaya dan sistem hukum yang sungguh-sungguh berpihak pada kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia. 

‎‎Dia meminta para kader yang tergabung dalam Persatuan Alumni GMNI, kaum Soekarnois, sebagai pewaris ideologis Pancasila dan Trisakti, harus menjaga dan mengawal implementasi Pancasila agar masyarakat merasakan kehadirannya. Antara lain dengan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan prinsip Bhinneka Tunggal Ika yang dimungkinkan dengan salah satunya, meminimalkan kesenjangan antardaerah. 

‎Kongres III ini, lanjutnya, akan merumuskan strategi perjuangan kaum Soekarnois agar dapat merevitalisasi dan membumikan ajaran-ajaran Bung Karno dan Api Perjuangannya dalam praksis kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan. 

‎"Semoga buah pikir kaum intelektual Soekarnois melalui kongres kali ini akan memberikan sumbangsih berharga bagi bangsa Indonesia untuk kembali menemukan jati dirinya di tengah arus deras gempuran ideologi neo-liberalisme dan radikalisme,” harapnya. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA