‎
Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Pengkajian Pemberdayaan Pemuda Kemenpora yang memimpin rombongan delegasi Indonesia, Arbi Eko Noerjanto, meminta agar masalah ini tidak kembali dibesarkan. ‎
‎
"Isu ini sudah lama, jadi jangan diangkat lagi. Kita memang kecewa, tapi jangan dibesarkan lagi. Kita cari solusi bersama," ujarnya kepada
Kantor Berita Politik RMOL di Guiyang, Guizhou, Tiongkok (Senin, 3/7).
Berbeda dengan Arbi, perwakilan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Anang Sutono lebih keras menanggapi hal ini. Anang yang ikut menyaksikan tarian
Rasa Sayange Malaysia itu mengaku kesal dan marah.‎
‎
"Ini sudah kesekian kalinya. Dari sisi marah kita marah. Tapi di satu sisi kita juga lemah," ujar Direktur Bandung Institute of Tourism‎ yang juga ditemui usai acara tersebut.
‎
Menurutnya, Indonesia harus berkaca dari kejadian yang telah berulang-ulang dilakukan pihak Malaysia. Harus ada, lanjutnya, kerja sama antara pemerintah dengan LSM-LSM Indonesia untuk memikirkan proteksi budaya bangsa.
"Semua produk nenek moyang harus kita lindungi bersama, baik oleh pemerintah maupun NGO-NGO. Kita harus bersama-sama menjaga tradisi dan budaya hasil karya cipta nenek moyang, itu tidak sembarangan," ujarnya.
"Harus ada juga soft diplomasi ke Malaysia, agar kejadian ini tidak terulang lagi," tandas Anang
.‎ [ysa]
BERITA TERKAIT: