Perombakan Kabinet Mampu Tingkatkan Popularitas Jokowi

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Rabu, 22 April 2015, 14:44 WIB
Perombakan Kabinet Mampu Tingkatkan Popularitas Jokowi
ilustrasi/net
rmol news logo . Isu reshuffle kabinet Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Jusuf Kalla menyeruak dan menjadi perbincangan publik dalam beberapa minggu terakhir. Wacana ini mengemuka seiring dengan kinerja dari sejumlah menteri yang dianggap belum cukup memuaskan.

Direktur Eksekutif Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC) Dimas Oky Nugroho mengatakan bahwa isu reshuffle tersebut perlu disambut oleh Jokowi. Selain sebagai langkah evaluasi Kabinet Kerja, juga bertujuan untuk mengonsolidasikan pemerintahannya sehingga lebih fokus dalam menjalankan agenda pembangunan.
 
"Dengan dilakukan reshuffle, nantinya diharapkan program-program pelayanan masyarakat yang menjadi kinerja kementerian dapat berjalan lebih baik. Namun perlu menjadi perhatian bagi presiden bahwa perombakan kabinet ini nantinya jangan hanya aspek kapasitas dan integritas yang menjadi pertimbangan, tapi juga aspek profesionalitas dan loyalitas menjadi sangat penting," kata doktor alumni UNSW Sydney ini dalam keterangan tertulisnya kepada Kantor Berita Politik RMOL (Rabu, 22/4).

Menurut Dimas, dari menteri yang ada sekarang terdapat sejumlah kategori untuk dirombak. Pertama, menteri yang terjebak pada tarik-menarik pertarungan politik internal di pemerintahan Jokowi-JK. Kedua, menteri yang safety player, hanya menunggu momentum pencitraan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Termasuk di dalamnya sejumlah pembantu presiden yang bersiap-siap untuk kontes dalam pilpres 2019 nanti. Ketiga, menteri yang tidak punya kapasitas atau tidak tahu apa yang harus dikerjakan.

Dimas menyoroti secara garis besar tidak jelasnya koordinasi pada tingkat kepemimpinan. Jikapun ada koordinasi maka kerap harus terjebak pada stagnasi akibat masih adanya pertarungan pengaruh pada lingkaran istana.

"Para pembantu presiden harus lebih fokus pada usahanya untuk membantu kelancaran dan kesuksesan pemerintahan Jokowi. Tidak terlibat dalam aksi-aksi politik murahan dan berani pasang badan untuk kepemimpinan Presiden Jokowi," ujarnya.
 
Dimas menambahkan, kebijakan melakukan reshuffle memang sepenuhnya ada di tangan Jokowi, namun isu ini perlu ditanggapi serius oleh Presiden karena wacana ini sudah menjadi masukan dari masyarakat yang merasakan ketidakpuasan terhadap kinerja Kabinet Kerja.

Menurutnya, perombakan kabinet nantinya akan membawa pengaruh positif peningkatan popularitas Presiden Jokowi jika yang dipilih nantinya betul-betul sosok yang profesional, berkapasitas dan berintegritas. Untuk hal ini maka Dimas mengharapkan presiden dapat bertindak indepent dan tidak di bawah pengaruh atau tekanan politik siapapun.

"Karena bagaimanapun, Jokowi adalah presiden rakyat Indonesia, didukung oleh rakyat dan dilindungi oleh Tuhan. Tidak usah tunduk pada tekanan politik manapun," tandasnya. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA