Pak JK, Kalau Rakyat Sejahtera Nggak Ada Yang Demo Pemerintah!

Senin, 30 Maret 2015, 08:58 WIB
Pak JK, Kalau Rakyat Sejahtera Nggak Ada Yang Demo Pemerintah!
Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK)
rmol news logo Peselancar dunia maya kecewa Wapres JK mengeluhkan aksi mahasiswa memprotes kenaikan harga BBM.
 
 Di Twitter, akun @syafrudinbojo sedih mengetahui Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) ikut membela mati-matian keputusan Pertamina menaikkan harga jual BBM.

"Kok wapres begitu sekarang bukannya mendukung rakyat malah buat jawaban yang tidak pas," kicaunya.

Akun @Balakutrak merasa Wapres JK saat ini sudah tidak lagi mengerti keinginan semua kelompok masyarakat.

"Omongan JK ini jauh dari sikap empati terhadap keterbatasan dan kemiskinan rakyat Indonesia," cuitnya.

Akun @UchupFira heran, Wapres JK menyindir mahasiswa yang turun ke jalan memprotes kenaikan harga BBM.

"Dilihat dong pak alasan protesnya. Tugas anda membuat rakyat lebih sejahtera sehingga tidak sampai protes," cetusnya.

Akun @ki_jagad bilang, seharusnya JK melihat aksi protes dari sudut pandang rakyat bukan sudut pandang pejabat.

"Nggak pernah ngerasain miskin sih ini orang," ketusnya.

Tweeps @faiza212 pesimistis, Indonesia bakal menjadi lebih baik di era pemerintahan Jokowi-JK. "Ganti pemerintahan bukannya tambah baik, malah semakin suram," tukasnya.

Tweeps @Toruhito mengkritisi pembelaan pemerintah soal keputusan menaikan harga BBM.

"Katanya BBM naik karena rupiah melemah, tapi kemarin ngomong nggak ada masalah rupiah melemah terhadap dolar," kritiknya.

Berbeda, tweeps @wong_cilik. com mendukung kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Dia menambahkan, pemberian subsidi bukan solusi yang tepat sasaran. "Nggak usah dengar, maju terus Pak," dukungnya.

Tweeps @cravent mengkritisi sikap mahasiswa yang kerap menyalahkan pemerintah setiap harga BBM naik. "Waktu BBM turun jadi 6.700, UMR tetap tidak turun, dasar," belanya.

Tweeple @errii menyatakan, fenomena naik-turun harga BBM adalah hal yang biasa.

"Yang namanya harga sudah pasti selalu berubah karena mengikuti harga pasar dunia. Ambil positifnya aja. Jangan picik," katanya.

Tweeple @guest meminta masyarakat jangan terlalu berlebihan dalam menanggapi kenaikan harga BBM.

"Dasar rakyat manja rakyat manja. Jangan kayak serasa dunia kiamat aja kalau bbm naik," pungkasnya.

Tweeple @KintokoAji meminta masyarakat untuk memaklumi keluhan yang diutarakan Wapres JK.

"Ya namanya juga orang tua, kalau bicara selalu dibawa ke perasaan, rada sensi hehe," selorohnya.

Keputusan pemerintah menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) menuai banyak kritikan. Serentetan aksi protes terjadi di sejumlah wilayah di nusantara.

Di Bengkulu, ratusan mahasiswa Universitas Bengkulu yang tergabung dalam "Koalisi Biru Melawan" menggelar aksi unjuk rasa. Dalam aksi, mahasiswa membawa replika jenazah yang dibalut kain berwarna biru dan diberi topeng Presiden Joko Widodo (Jokowi). Tak lupa, massa juga membawa spanduk dan poster bertuliskan ‘Kembalikan Jokowi Ke Solo.

Begitu juga dengan di Pamekasan, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat STAIN Pamekasan turun ke jalan dan melakukan memblokade akses jalan provinsi, tepatnya di Jl Raya Panglegur sebagai bentuk protes atas kenaikan harga BBM.

Di Klaten, sebanyak 45 mahasiswa Universitas Widya Dharma (Unwidha) Klaten melakukan longmarch berjalan mundur sejauh tiga kilometer. Sementara di Jakarta, sekitar 200 massa buruh dari Federasi Serikat Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FSBTPI) melakukan orasi menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di akses masuk Pos 9 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Menanggapi serentetan aksi, Wapres JK mengeluhkan sikap berlebihan masyarakat. Menurut JK kenaikan harga mulai 28 Maret 2015 relatif sedikit yaitu sekitar Rp 500/ liter untuk premium dan solar. "Di Indonesia ini apa saja diprotes. Naik sedikit diprotes," keluh JK.

JK menjelaskan kembali bahwa pemerintahannya memang melepas harga BBM jenis premium pada harga pasar. Selain itu, juga berlaku untuk harga BBM jenis solar, namun pemerintah masih memberikan subsidi tetap untuk solar Rp 1.000/liter.

Ia berharap masyarakat tak perlu bingung, karena pola semacam ini sudah terjadi pada harga BBM non subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Plus.

JK menegaskan tujuan pemerintah menerapkan harga BBM sesuai dengan harga pasar, agar uang negara bisa fokus untuk membiayai pembangunan.

"Kita ingin pembangunan lebih banyak. Kalau nggak ada uang negara gimana bisa bangun jalan rumah sakit sekolah? Maka ditetapkan tetap (solar). Kalau naik harga ya naik juga. Itu kebijakan yang diambil," katanya. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA