Demikian disampaikan Ketua Umum Organisasi Kesejahteraan Rakyat (Orkestra), Poempida Hidayatulloh dalam keterangannya, Minggu (22/3).
"Naiknya nilai dolar itu adalah bencana ekonomi bagi Indonesia. Itu harus disadari oleh pemerintah, apalagi yang bicara seorang menteri," ujar politisi Golkar ini.
Menurut Poempida, produk kreatif darimana pun juga di Indonesia akan mendadak menjadi sangat murah di mata negara lain, jika nilai tukar rupiah melemah. Bisa saja ini akan mengangkat ekspor, tapi sang menteri tidak berani membahas secara rinci berapa potensi ekspor yang bisa diterjadi.
"Yang jelas, turunnya nilai tukar rupiah terhadap Dolar, akan menyebabkan mahalnya berbagai teknologi, yang jelas-jelas akan menghambat akselerasi pembangunan nasional. Basis-basis biaya yang berkaitan dengan kesejahteraan lainnya pun akan menjadi mahal. Mulai dari pendidikan sampai kesehatan akan terpengaruh. Apalagi isu mengenai daya beli masyarakat. Jelas pasti terpengaruh juga," ungkapnya.
Jadi, tambah Poempida, apa sebenarnya berkahnya untuk masyarakat Desa? Pemerintah sebaiknya tidak perlu berkomentar memberikan informasi yang berusaha menenangkan tetapi bias secara akurasi.
"Bekerja sajalah untuk kemudian menghasilkan dan mencapai target yang diinginkan," tukasnya.
Sebelumnya Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (DPDTT) Marwan Jafar mengatakan, masyarakat daerah tertinggal bisa ikut merasakan efek positif dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pasalnya, pelemahan rupiah membawa berkah bagi produk-produk dalam negeri yang memiliki nilai jual tinggi di pasar ekspor. Sementara produk-produk tersebut banyak diproduksi di daerah-daerah tertinggal. (Baca:
Kata Menteri Marwan, Rupiah Melemah Bikin Untung Desa).
[rus]
BERITA TERKAIT: