Bachtiar mengapresiasi kedaÂtangan tim islah bentukan PPP Muktamar Jakarta itu. Dia meÂnyambut positif upaya yang diÂlakukan Tim Islah untuk mengumÂpulkan para sesepuh dan senior-senior partai guna menyatukan kembali partai yang berslogan 'rumah besar umat Islam' ini.
"Ini langkah bagus, tepat dan objektif. Dengan mendaÂtangi senior-senior menunjukkan rasa sayang dan kecintaan pada PPP," kata bekas menteri Sosial (Mesos) ini.
Dia mengatakan, sesepuh dan senior-senior PPP tidak memÂpunyai kepentingan pribadi atau kekuasaan.
Dia yakin, dengan melibatkan sesepuh, konflik dualisme PPP bisa diurai sehingga tercipta kembali partai yang utuh dan solid.
"Kita ini sudah uzur, apalagi yang akan kita cari kecuali memberi nasehat pada adik-adik kita untuk tetap konsisten membesarÂkan partai," katanya.
Kendati PPP terbelah menÂjadi dua kubu, Bachtiar yakin, kedua kubu yang berbeda terseÂbut mempunyai cita-cita yang sama, yaitu membesarkan partai. Dengan cita-cita yang sama itu, kata dia, pintu untuk bersatu masih terbuka lebar.
"Bagi senior merasa sedih jika pertikaian di PPP tidak juga selesai. Bagi yang pernah di PPP dan pernah duduk di lembaga negara akan merasa prihatin yang sangat mendalam dengan perpecahan ini," ujarnya.
Untuk mewujudkan perdaÂmaian kedua kubu, sambung Bachtiar, akan dilakukan rekonÂsiliasi secara nasional yang meliÂbatkan seluruh komponen partai. Meliputi Partai Syarekat Islam Indonesia, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Nahdlatu Ulama (NU), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi).
"Kita ingin PPP rukun. Jaman Pak Hamzah Haz, jaman Buya, jaman Ibu Aisyah Amini selalu rukun. Dan partai pun besar. Tidak ada perpecahan," ujar politisi senior yang pernah menjabat menÂteri selama dua periode dan angÂgota DPR selama 10 tahun ini.
Bachtiar mengungkapkan, ada beberapa alternatif jalan menuju Islah. Pertama, yang palingmulia adalah kedua ketum berÂsatu. "Salah satu harus ada yang mengalah. Saya ketemu Romy dan Emron Pangkapi. Mereka berÂpendapat. Djan Fridz-lah yang harus menegur mereka. Ini namanya buÂkan mengalah," katanya.
Alternatif kedua, lanjut Bachtiar, menunggu putusan pengadiÂlan. "Kalau ini jadi pilihan, apa yang akan terjadi. Berapa lama putusan itu selesai. Ini panÂjang. Sampai ke kasasi. Andai saja salah satu pihak menang. Apakah mereka yang kalah akan merasa salah. Pasti akan merasa betul sampai kemudian banding berkali - kali," paparnya.
Alternatif yang lain, terang Bachtiar, senior-senior harus bertemu. "Sayangnya Romy ini terkesan tidak menghormati sesepuh seperti KH Maemoen. Sehingga membuat takut tokoh senior lainnya seperti Pak Hamzah Haz. Takut pendapatnya tidak diterima dan jatuh wibawanya," ungkapnya. ***
BERITA TERKAIT: