Bachtiar Chamsyah Rindu Kejayaan PPP Masa-masa Lalu

Ditemui Tim Islah

Sabtu, 14 Februari 2015, 07:42 WIB
Bachtiar Chamsyah Rindu Kejayaan PPP Masa-masa Lalu
Bachtiar Chamsyah
rmol news logo Tim Islah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) terus menggelar roadshow silatur­rahim dengan para sesepuh dan senior-senior partai berlam­bang kabah. Kemarin, tim yang dipimpin kader PPP yang juga bekas ketua Komisi Yudisial (KY) Thahir Saimima ini men­gunjungi Bachtiar Chamsyah di BSD, Tangerang.

Bachtiar mengapresiasi keda­tangan tim islah bentukan PPP Muktamar Jakarta itu. Dia me­nyambut positif upaya yang di­lakukan Tim Islah untuk mengum­pulkan para sesepuh dan senior-senior partai guna menyatukan kembali partai yang berslogan 'rumah besar umat Islam' ini.

"Ini langkah bagus, tepat dan objektif. Dengan menda­tangi senior-senior menunjukkan rasa sayang dan kecintaan pada PPP," kata bekas menteri Sosial (Mesos) ini.

Dia mengatakan, sesepuh dan senior-senior PPP tidak mem­punyai kepentingan pribadi atau kekuasaan.

Dia yakin, dengan melibatkan sesepuh, konflik dualisme PPP bisa diurai sehingga tercipta kembali partai yang utuh dan solid.

"Kita ini sudah uzur, apalagi yang akan kita cari kecuali memberi nasehat pada adik-adik kita untuk tetap konsisten membesar­kan partai," katanya.

Kendati PPP terbelah men­jadi dua kubu, Bachtiar yakin, kedua kubu yang berbeda terse­but mempunyai cita-cita yang sama, yaitu membesarkan partai. Dengan cita-cita yang sama itu, kata dia, pintu untuk bersatu masih terbuka lebar.

"Bagi senior merasa sedih jika pertikaian di PPP tidak juga selesai. Bagi yang pernah di PPP dan pernah duduk di lembaga negara akan merasa prihatin yang sangat mendalam dengan perpecahan ini," ujarnya.

Untuk mewujudkan perda­maian kedua kubu, sambung Bachtiar, akan dilakukan rekon­siliasi secara nasional yang meli­batkan seluruh komponen partai. Meliputi Partai Syarekat Islam Indonesia, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Nahdlatu Ulama (NU), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi).

"Kita ingin PPP rukun. Jaman Pak Hamzah Haz, jaman Buya, jaman Ibu Aisyah Amini selalu rukun. Dan partai pun besar. Tidak ada perpecahan," ujar politisi senior yang pernah menjabat men­teri selama dua periode dan ang­gota DPR selama 10 tahun ini.

Bachtiar mengungkapkan, ada beberapa alternatif jalan menuju Islah. Pertama, yang palingmulia adalah kedua ketum ber­satu. "Salah satu harus ada yang mengalah. Saya ketemu Romy dan Emron Pangkapi. Mereka ber­pendapat. Djan Fridz-lah yang harus menegur mereka. Ini namanya bu­kan mengalah," katanya.

Alternatif kedua, lanjut Bachtiar, menunggu putusan pengadi­lan. "Kalau ini jadi pilihan, apa yang akan terjadi. Berapa lama putusan itu selesai. Ini pan­jang. Sampai ke kasasi. Andai saja salah satu pihak menang. Apakah mereka yang kalah akan merasa salah. Pasti akan merasa betul sampai kemudian banding berkali - kali," paparnya.

Alternatif yang lain, terang Bachtiar, senior-senior harus bertemu. "Sayangnya Romy ini terkesan tidak menghormati sesepuh seperti KH Maemoen. Sehingga membuat takut tokoh senior lainnya seperti Pak Hamzah Haz. Takut pendapatnya tidak diterima dan jatuh wibawanya," ungkapnya. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA