Sekolah-sekolah yang jumlahnya mencapai puluhan tersebut, jelas Arie, tidak dapat beraktifitas sama sekali karena banjir. Sehingga, siswa-siswa itu pun akhirnya harus diliburkan.
"Peserta didik ada yang kesulitan datang ke sekolah karena akses menuju sekolahnya banjir. Kebanyakan sekolah libur di hari pertama banjir besar pas hari," kata Arie saat dihubungi wartawan dari Jakarta, Jumat (13/2).
Sekolah yang sempat terendam banjir itu yakni SMPN 10, SMPN 183, SMPN 232, SMPN 140, SMAN 27, SMAN 77, SMAN 13, SMAN 111, SMAN 8, SMAN 96, SMAN 60, SMKN 12, SMK Yapenda, SMK Tri Darma, SMK Diponegoro 2, SMK Pusaka 1, PKBM 33 Jakarta Timur, TK As Saadah, TK Riyadus Shalihin, SDN Kwitang 01, SDN Kramat 02, SDN Kemayoran 09, SDN Cempaka Baru 03, SDN Kapuk Muara 01, SDN Jatinegara 10 dan SDN Kayu Putih 09 Pagi.
Selain itu, Arie mengungkapkan bahwa ada juga sejumlah sekolah yang harus dijadikan tempat pengungsian bagi para warga yang menjadi korban banjir.
"Akan tetapi, meskipun sekolah-sekolah tersebut menjadi tempat pengungsian korban banjir, aktivitas belajar dan mengajar mereka tidak terganggu," katanya.
Sekolah yang sempat dijadikan sebagai lokasi pengungsian tersebut antara lain SMA Negeri 76 (di Jalan Tipar, Cakung, Jakarta Timur), SMK Negeri 54 (di Jalan Bendungan Jago Nomor 53, Kemayoran, Jakarta Pusat), SD Negeri Bidara Cina 03 Pagi, SD Negeri Kampung Melayu 01 Pagi, dan SD Negeri Kampung Melayu ‎02 Petang Jakarta Timur.
Namun, lanjutnya, karena banjir yang sudah berangsur surut Selasa (10/2) lalu, sejumlah pengungsi pun mulai meninggalkan sekolah, dan kembali ke rumah mereka masing-masing.
[sim/jkt/man]