Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Dradjad H Wibowo, kepada Kantor Berita Politik
RMOL beberapa saat lalu (Jumat, 23/1).
"Penyadapan di luar perkara ini adalah tuduhan
abuse of power dan pelanggaran privasi yg luar biasa serius," ungkap Dradjad H Wibowo.
Menuru Dradjad, tingkat keseriusan tuduhan Hasto ini sama dengan kasus-kasus yang dibuka Edward Snowden, meski skalanya jauh lebih kecil.
"Saya rasa DPR, Polri dan Kejagung harus proaktif memeriksa tuduhan Hasto tersebut," tegas Dradjad.
Meskipun sulit, sambung Dradjad, tapi secara teknis bisa dilakukan pembuktian terhada benar tidaknya ada penyadapan di luar perkara tersebut. Dan jejak digitalnya bisa ditelusuri oleh para ahli.
Dalam jumpa pers Kamis kemarin (22/1), Hasto mengatakan dirinya bersama elitePDIP dan Partai Nasdem serta beberapa tokoh politik yang kini sudah menjadi menteri di Kabinet Kerja, pernah bertemu dengan Abraham Samad, bahkan sampai lebih dari lima kali. Pertemuan tersebut kerap dilakukan di apartemen mewah di wilayah SCBD Sudirman, Jakarta bernama The Capital Residences.
Uniknya, kata Hasto, Abraham Samad selalu menggunakan topi dan masker di setiap pertemuan rahasia itu. Tak hanya itu, Hasto terkejut karena ternyata telepon seluler miliknya pun sudah disadap oleh tim Abraham Samad di masa jelang Pilpres itu.
"HP saya disadap, makanya Abraham Samad tahu semua percapakan kami. AS juga tahu jika dirinya tidak akan menjadi cawapres Jokowi lewat alat penyadapnya," ujar Hasto.
[ysa]
BERITA TERKAIT: