"Syarat islah yang saya ajukan sesuai aturan yang ada, yaitu presidium (penyelemat Golkar) yang inkonstitusional dibubarkan dan Munas Bali yang sesuai aturan jalan terus," kata Aburizal Bakrie, melalui akun twitter-nya @aburizalbakrie, pagi ini (Rabu, 10/12).
Bahkan, lanjut Aburizal, Ketua Dewan Pertimbangan Golkar Akbar Tanjung juga menemui mereka dan menawarkan solusi lagi. Yaitu Munas di Bali tetap jalan tapi hanya membahas soal AD/ART, sikap politik dan lain-lain, sementara pemilihan ketua umum diundur bulan Oktober 2015, sesuai Munas sebelumnya di Riau.
"Tapi mereka tetap menolak. Tidak mau datang dan buat Munas tandingan.Kita sudah tawarkan damai, tapi mereka menolak. Jadi siapa yang ingin pecah?" ungkap Aburizal, sambil mengatakan bahwa saat Munas di Bali berlangsung, mereka mengirimkan massa 19 bus untuk menganggu Munas.
Namun gangguan itu bisa diantisipasi pihak keamanan. Aburizal Bakrie pun berterimakasih pada Gubernur Bali, Kapolda Bali, dan pihak terkait lainnya, juga para Pecalang yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Bali.
[ysa]
BERITA TERKAIT: