Pengamat komunikasi politik Ari Junaedi mengaku arus dinamisasi di partai Golkar mudah dikontrol dan dikendalikan oleh suprastruktur. Ketika pucuk pimpinan dengan didukung para loyalisnya berambisi untuk maju, maka suasana pengkondisian ke arah pengiringan suara bulat dan mufakat menjadi tradisi Golkar yang turun-temurun.
Karena itu, kata Ari kepada
RMOL beberapa saat lalu (Rabu, 12/11), harus dibuka peluang terjadinya regenerasi kepeminpinan di Golkar mengingat Golkar adalah partai besar dan paling berpengalaman. Dan juga, hendaknya kader-kader Golkar pemilik suara di Munas dan Rampinas nantinya menyadari, Golkar di bawah kepemimpinan Ical sangat jeblok prestasinya.
"Baik kegagalan menjadi pemenang pemilu, gagal mengantar kadernya menjadi capres, cawapres bahkan menteri sekalipun, gagal menentukan arah politik koalisi serta gagal melakukan regenerasi kepemimpinan," ujar Ari Junaedi.
Menurut pengajar Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) ini, Ical hendaknya menyadari kalau mau menjadi pemimpin yang hebat dan selalu dikenang, hendaknya juga ikut melahirkan calon pemimpin baru di partainya.
"Golkar itu ibaratnya Manchester United di sepakbola, jika managernya salah menerapkan strategi permainan maka manajer tersebut layak dan legowo harusnya untuk diganti manajer baru. Era Fergusson, zaman Moyes sudah berlalu dan kini MU bersalin rupa di masa Van Gaal," ungkap Ari.
"Lah Golkar kok tidak membuka akses terjadinya penyegaran kepemimpinan ? Tantangan ke depan sangat berat karena baru pertama kali Golkar berada di luar pemerintahan. Nakhoda Golkar yang baru harusnya bisa membawa Golkar menjadi perahu yang tahan goncang," sambung Ari Junaedi yang juga dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.
[ysa]
BERITA TERKAIT: