Menariknya, dalam pertempuran memperebutkan pimpinan MPR ini, Koalisi Indonesia Hebat mendapat kekuatan baru dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). PPP, yang kecewa dengan KMP karena tidak mendapat jatah pimpinan MPR, akhirnya, "di permukaan", merapat ke Jokowi-JK.
Disebut "di permukaan", karena ini, meminjam istilah dramaturgi dari sosiolog Erving Goffman, adalah
front stage PPP.
Back stage sikap politik PPP, yang memiliki 39 kursi atau suara, entah siapa yang tahu. Lebih-lebih, pemilihan MPR dilakukan secara tertutup.
Belakangan, muncul kabar, di lingkaran elit partai, bahwa sebenarnya PPP memang main dua kaki. PPP tidak solid mendukung paket A pimpinan MPR sebagaimana diusulkan Koalisi Indonesia Hebat.
Kubu Romahurmuzy, memang menyerahkan suara kepada Koalisi Indonesia Hebat. Sementara kubu Suryadharma Ali, tetap berpijak kukuh di Koalisi Merah Putih. Kedua belah pihak, tentu saja, disebutkan juga, mendapat tawaran-tawaran yang menggiurkan dari masing-masing koalisi, selain soal kursi pimpinan MPR.
[ysa]
BERITA TERKAIT: