Ahok pada akhir kemarin meninjau langsung Saemangeum Seawall yang terdapat di sebelah barat daya Semenanjung Korea.
Tanggul laut yang dibangun 1991 itu ternyata tidak bisa dipakai dalam pembangunan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) di Jakarta nanti.
"Saya kira konsepnya berbeda sekali. Salah satu konsep utama Jakarta Giant Sea Wall itu mau buat waduk jadi reservoir air. Kalau di sana, mereka yang terutama hanya bangun penahan ombak. Itu pun waduk yang dibikinnya tercemar air kotor. Mana bisa dipakai untuk pertanian," ujar Basuki di Balaikota, Jakarta Pusat, Senin (22/9).
Oleh karena itu, Ahok, sapaan Basuki mengaku akan meniru Maasvlakte Seawall yang ada di Rotterdam, Belanda untuk membangun Diant Sea Wall di pantai utara Jakarta.
Namun, meski tak jadi mencontoh proyek milik Korea Selatan, ia menilai negeri Ginseng itu akan tetap mendukung pembangunan tanggul laut raksasa yang rencananya akan selesai 2024 nanti.
"Mereka tetep mau bantu desain. Mereka kan udah pengalaman. Orang Korea ini dari zaman nenek moyangnya sudah biasa bangun penahan ombak. Di sana ombaknya ganas-ganas," tandasnya.
Sebagaimana diketahui, NCICD adalah mega proyek perluasan wilayah dengan cara mereklamasi laut menjadi area tinggal. Tanggul raksasa dibangun untuk mengatasi gelombang atau rob. Area yang direklamasi sendiri akan dijadikan menjadi sebuah kawasan terpadu yang terdiri dari perumahan, perkantoran, serta pusat perbelanjaan. Proyek di digagas oleh pemerintahan Fauzi Bowo.
[zul]
BERITA TERKAIT: