Ia datang dari Riau bersama istri dan anaknya, Ellyna Fitri (16) untuk mencari keadilan dalam kasus malpraktek yang terjadi pada Ellyna Fitridi. Setiap hari, hingga Kamis tanggal 14 Agustus, mereka menggelar aksi di depan pintu gerbang gedung DPR.
Pada hari ke-127 itulah keadaan berubah. Bukan mendapat sambutan dari anggota DPR, Idesyamuddin malah diminta meninggalkan gedung DPR oleh Satpol PP. Idesyamsuddin juga diminta untuk mencopot semua spanduk yang terkait dengan aksinya. Alasan Satpol PP, karena pada tanggal 15 Agustus akan digelar sidang Paripurna DPR dengan menghadirkan Presiden SBY.
Saat bernegosiasi terkait dengan permintaan Satpol PP itu, karena Idesyamduddin juga tak punya tempat di Jakarta, tiba-tiba datang orang yang mengaku dari pihak kecamatan Tanah Abang. Dengan marah-marah, orang itu dan Satpol PP pun membuka dan mencopot semua spanduk dengan paksa.
Idesyamsuddin bersama anak dan istri pun dipaksa masuk mobil kerangkeng Satpol-PP dan dibawa ke Sudin sosial yang berada di Kedoya Jakarta Barat.
Sampai di lokasi pihak Dinas Sosial Kedoya menolak dengan alasan Idesyamsuddin bukan PMKS atau pengemis atau gelandangan. Dan di Kedoya , Idesyamsudin minta dibawa ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Pihak dari kepolisian Polsek Tanah pun janji mau mengantar Idesyamsuddin ke KPAI setelah mendapat surat pengantar dari dinas sosial Kedoya untuk KPAI.
Namun surat pengantar itu dipegang polisi. Idesyamsuddin pun dibawa ke kantor Kecamatan Tanah, bukan ke KPAI sebagaimana perjanjian. Mereka diterlantarkan.
Demikian penjelasan Syarif Hidayat, yang disampaikan kepada redaksi (Selasa, 19/8). Syarif adalah pihak yang membantu perjuangan Idesyamsuddin selama ini.
Akhirnya Idesyamsuddin dibawa kerumah Syarif Hidayat dari masyarakat peduli kemanusiaan di jalan Mampang Prapatan II untuk menunggu langkah selanjutnya dari apa yang akan dilakukan aksi lanjutan di depan Gedung DPR-RI yang akan didampingi oleh perwakilan mahasiswa Jambi dan Kontras.
[ysa]
BERITA TERKAIT: