Hatta: Banyak Orang Salah Kalkulasi Langkah Politik SBY yang Egoistik

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Sabtu, 09 Agustus 2014, 12:19 WIB
Hatta: Banyak Orang Salah Kalkulasi Langkah Politik SBY yang Egoistik
sby/net
rmol news logo . Banyak publik salah menilai dan memprediksi langkah-langkah SBY. Masyarakat umum juga sering salah kalkulasi tentang SBY. Misalnya, ketika Partai Demokrat mendukung Prabowo-Hatta, banyak yang menilai bahwa SBY pun mendukung Prabowo-Hatta.

Demikian disampaikan Koordinator Gerakan Diskusi 77/78, M. Hatta Taliwang. Menurut Hatta, kalkulasi ini sering salah karena banyak publik yang tidak belajar dari sejarah, atau memandang rekam jejak SBY selama ini.

Dalam catatan Hatta, watak dasar SBY adalah suka membela diri dan begitu egois. Lihat saja dalam kasus yang melibatkan besannya, Aulia Pohan, hingga sang besan itu masuk penjara. Pun demikian dalam perkara Anas Urbaningrum, SBY mau menjadi "korban dirinya" dan menjadi Ketua Umum Demokrat, dengan tetap menunjuk anaknya sebagai Sekjen Demokrat.

"Langkah ini hanya untuk memuaskan egonya bahwa dia bisa menundukkan dan mengalahkan Anas. sampai dia lupa bahwa dirinya Presiden dan Kepala Negara dari 240 juta rakyat," kata Hatta dalam keterangan beberapa saat lalu (Sabtu, 9/8).

Dalam konteks Pilpres saat ini, lanjut Hatta, ukuran bagi langkah politik SBY bukanlah hubungan perbesanan dengan Hatta Rajasa. Bahkan, bila pun Hatta Rajasa menjadi tumbal egosentris-nya, SBY tidak akan peduli. Sebab bagi SBY saat ini adalah bagaimana menyelamatkan dirinya pasca tidak akan berkuasa lagi.

"Kalau majikan neoliberal-nya mengatakan bela Jokowi, maka suka tidak suka akan dilakukan apalagi kalau ada jminan dia akan dilndungi pasca tidak brkuasa. Syukur kalau ada bonus janji didukung jadi Sekjen PBB," ungkap Hatta.

Bila jalan itu dinilai tidak nyaman, Hatta yakin SBY akan mencari cari jalan sendiri. Karena itu, Hatta menilai, harus mencermati juga bila misalnya ada adu domba dua capres untuk buat kekacauan agar punya pintu ke dalam keadaan darurat.

Misalnya juga, mengapa SBY tidak nyaman dengan Prabowo. Lalu juga harus dilihat ke masa lalu terkait dengan perseteruan TNI Hijau dan TNI Merah, maupun harus dianalisis mengapa misalnya, ada yang meneyebutkan, ketika SBY dalam prsinggahan di Abu Dhabi mnuju Eropa, SBY merasa perlu mmbeli buku Hitler, yang saat itu nama Prabowo sudah mencuat ketika nama Jokowi belum disebut-sebut sebagai capres.

Lewat Hatta Rajasa, ungkap Hatta Taliwang lagi, SBY punya pintu untuk memanggil Prabowo ke Istana Cikeas setiap saat. Entah untuk di-brieffing sungguhan atau sekedar tarik ulur agar Peabowo bisa "dikendalikan," atau kalau perlu "dikorbankan".

"Hanya SBY yang tahu mau diapakan Pilpres ini. Mau diapakan banngsa dan negara ini di menit-menit terakhir kekuasaannya. Yangg jelas sudah terbukti selalu ada pilihan sekalipun besan atau bahkan rkyat jadi korban," ungkap Hatta, sambil menyindir buku SBY berjudul "Selalu Ada Pilihan." [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA