Pertanyaan lain yang juga sering ditanyakan adalah, mengapa dibagikan secara gratis? Apakah karena merupakan bagian dari operasi politik?
Kedua pertanyaan ini dijawab oleh Darmawan Sepriyossa, salah seorang pendiri
Obor Rakyat dalam buka puasa bersama jurnalis Indonesia di aula serbaguna Masjid Albina, Senayan, Minggu (6/7).
Ia memberikan penjelasan mendampingi Pimred
Obor Rakyat Setiyardi Budiono.
“
Obor Rakyat adalah media yang
captive market.
Target audience kami memang terbatas, yakni kalangan Muslim. Sehingga kami sebarkan ke pesantren. Tidak mungkin kami sebarkan ke gereja atau kuil,†ujar Darmawan yang mengenakan pakaian hitam-hitam.
Tabloid itu didistribusikan secara gratis karena masih dalam rangka mengumpulkan masukan pembaca.
“Tiga edisi pertama memang kami maksudkan untuk tes pasar, kami mengumpulkan masukan dari pembaca,†sambungnya.
Sebelum Darmawan, Setiyardi lebih dulu bicara.
Dia kembali mengatakan bahwa
Obor Rakyat tadinya juga dimaksudkan menjadi semacam
clearing house atas banyak informasi yang beredar di tengah masyarakat, terutama yang berkaitan dengan Joko Widodo.
Setiyardi juga mengatakan, dalam waktu dekat, setelah akta pendirian perusahaan selesai dibuat, pihaknya akan meluncurkan secara resmi tabloid ini.
Hari Kamis pekan lalu (3/7) Mabes Polri telah menetapkan Setiyardi dan Darmawan sebagai tersangka. Keduanya dijerat dengan Pasal 9 ayat 2 (2) UU 40/1999 tentang pers.
Obor Rakyat dianggap bersalah karena tidak memiliki badan hukum.
[dem]
BERITA TERKAIT: