Dalam dokumen Rincian kertas kerja satuan kerja KPU tahun 2014, satu paket acara debat capres yang disiarkan
live oleh salah satu stasiun televisi menghabiskan dana lebih dari Rp 986 juta. Selain itu, ada juga dana konsumsi debat capres sebesar Rp 252,5 juta.
"Alokasi anggaran ini besar dan mahal. Tapi sayang seribu kali sayang, alokasi anggaran yang mahal dan besar ini, KPU kurang cerdas dalam memformat penyelenggaraan kegiatan debat capres ini," ujar Direktur Investigasi dan Advokasi FITRA, Uchok Sky Khadafi, dalam pesan singkatnya kepada redaksi (Minggu, 29/6).
Sekalipun menggunakna dana besar, kata dia, sayangnya kegiatan debat capres-cawapres mirip cerdas cermat yang biasa dilakukan untuk pelajar, siapa yang bisa menjawab dirasa akan menjadi pemenangnya. Bukan untuk mengutarakan janji-janji capres di depan publik agar kelak bisa ditagih dalam bentuk program.
"Oleh karena bentuknya seperti cardas cermat, lanjut Ucok, maka janji-janji capres sangat susah ditagih. Apa yang diperdebatan kedua capres sebagian tidak bisa ditagih lantaran hanya pernyataan mereka spontan, suka menyindir dan memojokkan lawan debat. Perdebatan hanya sebatas informasi yang mereka ketahui saja," papar dia.
Seharusnya, lanjut Ucok, debat capres cawapres ini memperdebatan konsep yang berisi "janji-janji" yang mereka buat sendiri. Dan konsep-konsep inilah yang dikejar oleh mederator agar capres ini bisa menjelaskan ke publik dan konsep ini bisa "membumi" jadi program dalam apbn atau kebijakan lainnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: