Hal serupa juga terjadi di kalangan pendukunga duet Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa.
Sebagian dari pendukung Jokowi-JK mendukung Real Madrid. Sebagian lainnya mendukung Atletico Madrid. Pendukung PrabowopHatta pun demikian. Sebagian mendukung Los Blancos, sebagian lagi mendukung Los Colchoneros.
Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA juga ikut menyaksikan drama pertandingan final dan drama perpecahan kelompok pendukung capres-cawapres ini.
"Memang hanya bola yang mampu memecah dan menyatukan pendukung Jokowi dan Prabowo. Hanya sihir bola yang mampu mengalahkan polarisasi pendukung capres Jokowi dan Prabowo," tulisnya dalam akun
Twitter @DennyJA_World>.
Squad Atletico Madrid yang dipimpin Diego Simeone unggul lebih dulu lewat gol yang dicetak Diego Godin. Namun menjelang babak kedua berakhir, Sergio Ramus berhasil menyamakan kedudukan.
Penghujung babak kedua sungguh menegangkan.
"Lebih tegang dari pertarungan pilpres Jokowi vs Prabowo," ujar Denny JA lagi.
Di babak perpanjangan waktu giliran Real Madrid yang pesta gol. Tiga gol tanpa balas disarangkan Gareth Bale, Marcelo dan Ronaldo.
"Akhirnya Real Madrid menang. Pendukung Jokowi dan Prabowo yang pro Real Madrid berpelukan. Namun selesai final, pendukung Jokowi dan Prabowo kembali ke posisi semula: berseberangan lagi," masih twit Denny JA.
Menurutnya, masing-masing pendukung Jokowi dan Prabowo ingin berakhir seperti Real Madrid, meraih kemenangan di saat akhir.
Pertarungan final Liga Champions kali ini terbilang keras. Wasit terpaksa mengeluarkan sembilan kartu kuning, masing-masing enam untuk Atletico Madrid, dan tiga untuk Real Madrid.
[dem]
BERITA TERKAIT: