Karena itu, akhirnya Presiden Sudan Selatan, Salva Kiir, mengumumkan bahwa ia akan menunda pemilihan presiden yang akan digelar pada 2015. Sebab katanya, rekonsiliasi pihak yang bertikai akan membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Pemilihan harus diperpanjang selama dua atau tiga tahun , sehingga pemerintah sementara ini akan tetap berkuasa dan pemilu dapat diselenggarakan pada tahun 2017 atau 2018," kata Kiir sebagaimana dilansir
Reuters (Senin, 12/5).
Dalam konflik ini, Kiir, yang merupakan simbol pemerintah melawan Machar yang disebut sebagai pemberontak.
Kiir dan Machar sendiri sudah menandatangani fakta gencatan senjata baru di Ethiopia pada hari Jumat lalu. Keduanya berjanji untuk mengadakan pembicaraan lebih lanjut mengenai pembentukan pemerintah sementara untuk mengakhiri pertumpahan darah yang terjadi hampir lima bulan.
Namun kedua belah pihak saling menuduh satu sama lain telah melanggar gencatan senjata.
[mag1/ysa]
BERITA TERKAIT: