Semakin dekat jarak prediksi dan QC yang dilakukan lembaga survei dengan hasil
final count yang dilakukan KPU, semakin kredibel lembaga survei itu, dan semakin patut untuk dipercaya publik. Sebaliknya, semakin jauh dengan hasil FC KPU semakin tidak kredibel lembaga survei dan semakin tidak pantas dipercaya publik.
Demikian yang dapat disimpulkan dari pertanggungjawaban yang disampaikan pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA terhadap hasil survei dan QC Pemilu 2014 yang dilakukan LSI.
"Tanggal 9 Mei 2014, KPU mengumumkan hasil resmi pemilu legislatif. Saat itulah semua prediksi dan
quick count lembaga survei diuji," ujarnya Denny JA.
Dia mengatakan, hasil QC pemilu yang dilakukan lembaga survei sejauh ini sudah menjadi pegangan partai politik dalam menegosiasikan tiket calon presiden. Celaka bila partai politik menggunakan survei dan QC yang dilakukan lembaga survei yang tidak kredibel.
"Jika menunggu hasil resmi KPU, negosiasi antar partai dan tokoh sudah sangat terlambat. Tapi akuratkah prediksi hasil survei sebelum pileg dan QC setelah pileg? Bisakah hasil mereka dipercaya?" kata Denny JA lagi.
Tahun 2006 lalu
Rakyat Merdeka Online memberikan penghargaan Political Entrepreneur atas peranannya memperkenalkan survei dalam praktik demokrasi Indonesia.
Denny JA membandingkan hasil survei LSI yang diumumkan di Harian
Rakyat Merdeka pada H-1 dan Hari H. Survei LSI dan hasil FC KPU hanya berbeda untuk perolehan suara Partai Golkar dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
LSI memperkirakan Partai Golkar mendapatkan lebih dari 16 persen suara. Tapi ternyata Golkar mendapatkan 14,75 persen suara. Sementara untuk PKB, survei LSI memperkirakan partai itu akan memperoleh suara antara 3,5 persen hingga 8 persen. Dari hasil penghitungan KPU memperlihatan PKB memproleh 9,04 persen.
"Untuk prediksi survei, dari 12 partai yang diprediksi, perolehan 10 partai sangat akurat. Prediksi dua partai lainnya hanya berbeda 1,2 persen. Ini bisa dikategorikan dahsyat untuk sebuah ilmu sosial yang memprediksi apa yang belum terjadi," katanya.
Adapun hasil QC yang dilakukan LSI dan diumumkan di
TVOne memperlihatkan perbedaan yang begitu tipis dengan hasil penghitungan KPU.
"Sedangkan untuk QC semua rangking partai sama dengan dengan hasil penghitungan suara di KPU. Sedangkan hasil perolehan suara selisihnya beragam, mulai dari 0,01 persen sampai 0,8 persen. Rata-rata selisih absolut 0,24 persen, atau masih di bawah 0,5 persen sesuai yang diklaim ketika QC diumumkan," kata Denny JA lagi.
Dia juga mengatakan bahwa barangkali kini LSI menjadi lembaga survei dan konsultan politik yang paling besar diukur dari publikasi juga dari jumlah klien.
"Justru karena itu, LSI harus bertanggung jawab secara akademik atas publikasinya. Publik harus ikut menguji," demikian Denny JA yang tahun lalu meraih Democracy Award dari
Rakyat Merdeka Online ini.
[dem]
BERITA TERKAIT: