Saran itu antara lain disampaikan pengamat politik CSIS J. Kristiadi. Saran seperti itu dinilai sangat dangkal mengingat poros kekuatan masih didominasi oleh kubu Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Mustahil poros baru yang dibentuk SBY mampu mengalahkan kedua kubu itu.
"Untuk apa bikin poros baru jika hanya untuk menelan pil pahit? Bukankah untuk membuat poros baru itu perlu pertimbangan luas dan mendalam, mulai dari faktor popularitas sampai pendanaan," demikian disampaikan Abdul Rahman Syahputra, Pengurus Harian Pusat Studi Demokrasi dan Kebijakan Publik, sesaat lalu (Sabtu petang, 10/5).
Menurut Putra, pendapat J. Kristiadi ini diduga memiliki motivasi khusus. Dapat diduga bahwa saran itu dimaksudkan agar SBY betul-betul tergoda untuk membuat poros baru. Dengan begitu, salah satu kekuatan kedua kubu itu akan mengendor sehingga dapat memuluskan salah satu kandidat capres.
Lagi pula, lanjut Putra, SBY adalah politisi senior yang sudah sangat paham peta politik di tanah air. Karena itu, SBY pasti lebih tahu apa yang mesti dilakukan. Apalagi, di sekeliling SBY banyak para penasehat politik yang senantiasa dapat diajak untuk berdiskusi terkait masalah ini.
"Bisa saja hari ini SBY sudah melirik salah satu capres potensial menang. Tentu akan lebih santai jika SBY memperkuat kekuatan mereka. Yang jelas, SBY masih play maker dalam pentas politik nasional. Tidak usah diajar-ajarin-lah," demikian Putra.
[dem]
BERITA TERKAIT: